Laman

Senin, 07 Februari 2011

Muhammadiyah Responsif Terhadap Pluralitas Budaya

Dr. H. Syamsul Hidayat, M. Ag., (46 tahun) mengatakan, sebagai gerakan Tajdid fi al-Islam, Muhammadiyah mengimplementasikan setiap gerakannya dengan metode dan strategi pembaharuan. Pembaharuan yang dilakukan memiliki dua makna. 1. al-I’adah (kembali kepada kemurnian Islam dalm masalah agama yang bersifat baku, yakni masalah aqidah, ibadah mahdhah, sebagian muamalah dan akhlak).2. al-ihya’ (menghidupkan dan mendinamisasikan pemikiran dan pengalaman agama pada masalah-masalah yang bersifat dinamis, yakni sebagian besar masalah muamalah duniawiyah seperti politik, ekonomi, budaya dan seterusnya). Pandangan diatas berimplikasi pada keterbukaan dan sikap Muhammadiyah yang cair terhadap fenomena perubahan dan pluralitas budaya beserta nilai-nilai yang dikandungnya. Corak gerakan Muhammadiyah terlihat ramah dan cerdas dalam mensikapi fenomena pluralitas dan perubahan nilai sosial budaya sekaligus memberikan arah perubahan dan pluralitas yang sesuai dengan prinsip-prinsip Islam (tetap berpijak pada al qur’an dan sunnah). Artinya perubahan dan budaya yang dinilai baik sejalan dengan ajaran Islam, diterima. Perubahan dan budaya yang buruk, tidak sejalan dengan ajaran agama ditolak.
Hal tersebut disampaikan oleh dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS ) saat mempresentasikan hasil penelitian disertasinya untuk memperoleh gelar Doktor bidang Ilmu Agama Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, bertempat di ruang promosi doktor kampus setempat, Jum’at, 21 Januari 2011. Disertasi berjudul “Pemikiran Muhammdiyah Tentang Pluralitas Budaya”. dipertahankan dihadapan Tim Penguji antar lain; Prof. Dr.H. Syamsul Anwar, M.A., Prof. Dr. H. Sjafri Sairin, M.A., Dr.H. Haedar Nashir, M.Si., Noorhaidi, M. Phil, Ph. D., Prof. Dr. H. Burhanudin Daya (promotor merangkap penguji), Prof. Dr. H. Irwan Abdullah (promotor merangkap penguji). Sidang Promosi dipimpin oleh Prof.Dr.H. Musa Asy”arie, dengan sekretaris Dr. H. Sukamta.

Menurut promovendus, penelitian disertasinya menganalisis pemikiran dan gerakan Muhammadiyah, khususnya menyangkut relasi agama dan Kebudayaan. Pihaknya melakukan pemahaman terhadap realitas historis, konsistensi Muhammadiyah dalam mengejawantahkan pemikiran ideologis dan metodologis Islam tentang pluralitas budaya di Indonesia, dengan menggunakan pendekatan kualitatif metode Interpretasi. Sementara yang diinterpretasikan adalah teks-teks resmi organisasi Mmuhammadiyah dan karya-karya pemikir Muhammadiyah, serta para pemimpin Muhammadiyah dari masa ke masa.

Hasil penelitian putra kelahiran Jember ini menunjukkan, prinsip purifikasi dan dinamisasi yang dipegang Muhammadiyah sudah melembaga dalam organisasi ini, menjadi sebuah ideologi dan theologi yang dikenal dengan sebutan “tajdid”. Respeknya pemikiran Muhammadiyah terhadap pluralitas budaya telah mengantarkan organisasi ini justru menjadi kuat jatidirinya. Dengan ideologi dan theologi tajdid pula, menjadikan Muhammadiyah mudah melakukan interaksi dengan segala pihak. Muhammadiyah, kata Syamsul Hidayat, dapat tampil dalam banyak wajah dalam arti positif. Secara metodelogispun pemikiran keagamaan mmuhammadiyah yang relatif terbuka terhadap pluralitas budaya ternyata bisa menampung siapapun untuk berkhidmah di dalam Muhammadiyah demi tegaknya din al-Islam dan kemuliaan umat

Ketika kritik kemandegan menderanya, Muhammadiyah segera merekontruksi metodologi pemikiran Islamnya dengan mengunakan trilogi pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dengan segala pro-kontranya. Pendekatan trilogi ini mengadopsi pemikiran Abid al-Jabiri, yang oleh Mmuhammadiyah diterima dengan beberapa modifikasi. Dengan nalar Bayani ternyata mengantarkan Muhammadyah mampu mengembangkan gerakan purifikasi dan paham puritanisme, sehingga siap untuk melakukan Islamisasi berbagai lini kehidupan. Nalar Burhani menjadikan gerakan Muhammadiyah mampu mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi yang berpijak pada nilai-nilai al Qur’an dan hadis. Nalar Irfani telah menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan moral spiritual yang berkembang pesat (bukan spiritual simbolik, seperti gerakan dzikir jama’ah, bentuk-bentuk tarekatisme dan sebagainya). Jadi spiritualisme Mmuhammadiyah bersifat aktif dengan mengembangkan berbagai amal usaha dan menumbuhkan sikap empati kepada semua potensi umat yang pluralistik

Syamsul Hidayat juga menjelaskan, Muhammadiyah memandang pluralitas budaya sebagai keniscayaan sunatullah. Artinya budaya dan peradaban adalah rangkaian pandangan hidup, nilai, norma perilaku dan karya manusia yang memiliki keyakinan, kepercayaaan dan agama. Walaupun agama dan budaya merupakan dua sisi yang berbeda, namun sesungguhnya keduanya memiliki relasi yang sangat dekat.

Menurut promovendus konsekuensi pemikiran muhammadiyah tentang gerakan agama dan pluralitas budaya ini adalah : Dakwah Islam sebagai strategi kebudayaan Muhammadiyah memiliki makna yang sangat luas seluas seluruh aspek kehidupan manusia. Oleh karena itu, tafsir dakwah Muhammadiyah dituangkan dalam bentuk gerakan dan pengkajian dan pemikiran Islam, gerakan tabligh dan penyiaran Islam, pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengembangan ekonomi umat, kesehatan, santunan sosial kaum dhuafa dan yatim piatu, seni dan budaya, dan sebagainya Yang kesemuanya itu merupakan wujud kongkret dari kebudayaan Muhammadiyah, sebagaiman dituangkan dalam pedoman hidup Islami. Dengan luasnya tafsir dakwah tersebut, dakwah Muhammadiyah menyerah dan memasuki seluruh relung kehidupan masyarakat.

   Oleh tim penguji, Dr. Syamsul Hidayat, M.Ag dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan, dan dirinya merupakan Doktor ke-270 yang telah berhasil diluluskan Program Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga (www.uin-suka.ac.id)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar