Laman

Jumat, 25 Februari 2011

Bagaimana Sesungguhnya Kriteria Imam Shalat?


TANYA JAWAB SEPUTAR SHALAT:


Oleh: Syakir Jamaluddin, M.A.
(Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah/ 
Dosen FAI, Ketua LPPI UMY) 
Hal yang termasuk penting dalam membangun jama’ah namun sering disepelekan oleh jamaah adalah masalah Imam Shalat. Kadang kita temukan imam yang diajukan oleh jamaah adalah orang yang paling tua meskipun secara hapalan Al-Qur’an dan kefasihan masih ada yang lebih baik. Hal ini tidak begitu salah karena memang Nabi saw menganjurkan: وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ : “hendaklah mengangkat imam yang paling tua/senior di antara kalian!” (Muttafaq 'alayh). Sebenarnya makna akbar tidak mesti diterjemahkan paling tua usianya, tapi bisa juga yang dimaksud adalah paling hebat/unggul untuk jadi imam di antara jamaah yang ada. Tetapi kalaupun lafal akbar diartikan paling tua dari segi usia, maka harus dipahami ketika kemampuan para jamaah untuk menjadi imam sama bagusnya. Hal ini karena di lain kesempatan, Nabi saw menganjurkan dalam mengangkat Imam shalat jama`ah dengan mengutamakan orang-orang yang terbaik/pilihan (HR. Daraquthni, dari Ibn ‘Umar) yaitu orang yang paling bagus penguasaan dan bacaannya terhadap Al-Qur'an (أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ)[1], kemudian jika sama-sama bagus penguasaan dan bacaan Al-Qur’annya, maka berikutnya adalah yang paling paham tentang al-Sunnah (فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ), lalu yang paling “senior” keislamannya (فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً \سِلْمًا), barulah yang paling tua usianya (أَكْبَرُهُمْ سِنًّا) (HSR. Muslim, Abu Dâwud, Ibn Majah dari Abu Mas'ud) dengan catatan semuanya memiliki akhlaq yang baik, artinya tidak boleh mengangkat imam di mana para jama’ah membencinya (وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ . HSR. Abu Dâwud, al-Tirmidzi, Ibn Mâjah). Prinsipnya adalah imam itu diangkat dan dipilih oleh jamaahnya, tidak boleh maju dan mengangkat diri sendiri jadi imam shalat.



[1] Sebagian ulama menjelaskan makna aqra’uhum adalah orang yang paling bagus bacaan dan hapalan al-Qur'annya. Hal ini karena Sâlim mawla Abi Hudzayfah --sebelum kedatangan Nabi saw-- diangkat jadi imam shalat oleh kaum Muhajirin Awal di Qubâ' karena paling banyak hapalan al-Qur'annya. (HSR. Al-Bukhâri, 1/178: 692) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar