Laman

Kamis, 27 Januari 2011

The Power Of Ikhlas





Oleh:  Dr. H. Shobahussurur, M.A.

( Ketua  Masjid Agung Al-Azhar Jakarta &
Divisi Dakwah Khusus Majelis Tabligh PP Muhammadiyah )

“Padahal, mereka tidaklah disuruh melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untuk-Nya dalam menjalankan ajaran yang lurus, mendirikan sholat dan menunaikan zakat. Demikian itulah agama yang lurus.”. Q.S. al-Bayyinah/98: 5.


“Berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama/amal untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai.”. Q.S. Ghafir: 14.

Ikhlas mudah diucapkan tapi tidak gampang untuk dilakukan. Betapa banyak orang bederma tapi sia-sia, mengajar, menulis, berkarya dan berjuang tapi tak bermakna, karena ikhlas tidak ada dalam hati mereka. Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah dijelaskan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah:
1. Seorang lelaki yang telah berjuang demi mencari mati syahid. Dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku berperang di jalan-Mu sampai aku menemui mati syahid.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu berperang agar disebut-sebut sebagai pemberani, dan sebutan itu telah kamu peroleh di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.
2. Seorang lelaki yang menimba ilmu dan mengajarkannya serta pandai membaca/menghafal al-Qur’an. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Aku menimba ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca/menghafal al-Qur’an di jalan-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sebenarnya kamu menimba ilmu agar disebut-sebut sebagai orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai qari’. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.
3. Seorang lelaki yang diberi kelapangan oleh Allah serta mendapatkan karunia berupa segala macam bentuk harta. Lalu dia dihadirkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sekiranya akan diperolehnya, sehingga dia pun bisa mengenalinya. Allah bertanya kepadanya, “Apa yang telah kamu lakukan untuk mendapatkan itu semua?”. Dia menjawab, “Tidak ada satupun kesempatan yang Engkau cintai agar hamba-Mu berinfak padanya melainkan aku telah berinfak padanya untuk mencari ridha-Mu.” Allah menimpali jawabannya, “Kamu dusta. Sesungguhnya kamu berinfak hanya demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang dermawan. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan di dunia.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (H.R. Muslim [1903], lihat Syarh Muslim [6/529-530])

Betapa ikhlas menentukan seseorang apakah akan dicampakkan ke dalam api neraka atau dimasukkan ke dalam surga. Bentuk amalnya sama, tampak dipermukaan dia berjuang, bershadaqah, beramal shalih. Tetapi akibatnya bisa berbeda. Bila amal shalih dibarengi ikhlas, maka akan mengantarkan seseorang mendapatkan nikmat surga. Sementara amal shalih tanpa ikhlas, akan mencampakkannya ke dalam siksa yang pedih. Keikhlasan oleh karenanya sangat menentukan baik buruknya kehidupan kita.

Ikhlas Itu Menyelamatkan.
Ikhlas, dari bahasa Arab bermakna membersihkan sesuatu dari kotoran sehingga menjadi jernih, bening, dan bersih. Orang ikhlas adalah orang yang membersihkan hatinya dalam setiap aktifitas murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain serta tidak riya’ (pamer) dalam beramal. Orang yang ikhlas selalu memurnikan niat hanya mengharap ridha Allah saja dalam setiap amal, tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain.
Hati yang ikhlas akan menyelamatkan seorang mukmin dari siksa neraka. Allah berfirman: “Pada hari itu (kiamat), tidaklah bermanfaat harta dan keturunan kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih” (Q. S. al-Syu’arâ’/26: 88-89).
Rasulullah SAW. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amalan kecuali dilakukan dengan ikhlas demi mengharap wajah-Nya.” (H.R. al-Nasa’i dari Abu Umamah al-Bahili). Beliau juga bersabda: “Orang yang paling berbahagia dengan syafa’atku kelak pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas dari dalam hati atau dirinya.” (H.R. al-Bukhari dari Abu Hurairah).
Para ulama memahami qalb salîm (hati yang bersih) dalam ayat di atas sebagai hati yang bersih dari segala syahawât (keinginan-keinginan) yang melampaui batas yang dibenci Allah. Itulah hati ikhlas yang menyelamatkan manusia dari siksa pedih dan menghantarkannya menggapai nikmat surga. Al-Sa’di berpendapat: “Qalb salîm (hati yang bersih) itu adalah hati yang bersih dari syirik, keragu-raguan, dan terbebas dari kecintaan kepada keburukan dan dosa atau perilaku terus menerus berkubang dalam bid’ah dan dosa-dosa. Karena hati itu bersih dari segala yang disebutkan tadi, maka konsekunsinya adalah ia menjadi hati yang diwarnai dengan lawan-lawannya yaitu; keikhlasan, ilmu, keyakinan, cinta kepada kebaikan serta dihiasinya -tampak indah- kebaikan itu di dalam hatinya. Sehingga keinginan dan rasa cintanya akan senantiasa mengikuti kecintaan Allah, dan hawa nafsunya akan tunduk patuh mengikuti apa yang datang dari Allah.” (Taisir al-Karim al-Rahman, 2: 812).
Ibnul Qayyim al-Jauziyah menjelaskan: “Hati itu adalah hati yang bersih dari segala syahwat/keinginan nafsu yang bertentangan dengan perintah dan larangan Allah serta terbebas dari segala syubhat yang bertentangan dengan berita yang dikabarkan-Nya.” Lebih lanjut Ibnul Qayyim menjelaskan tentang pemilik hati yang bersih yang akan menyelamatkan dirinya itu: “…Ia akan senantiasa berusaha mendahulukan keridhaan-Nya dalam kondisi apapun serta berupaya untuk selalu menjauhi kemurkaan-Nya dengan segala macam cara…”. Kemudian, beliau juga mengatakan, “… amalnya ikhlas karena Allah. Apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya juga karena Allah. Apabila memberi maka pemberiannya itu karena Allah. Apabila tidak memberi juga karena Allah…” (Ighatsat al-Lahfan, hal. 15)


Ikhlas Itu Kekuatan.

Pada prinsipnya, ikhlas merupakan keharusan hakiki yang mesti ada dalam diri setiap orang. Ketika ikhlas itu ada, akan kuat dan tangguhlah dirinya, sebaliknya ketika ikhlas telah hilang, rapuh dan lemahlah dirinya. Hal itu karena manusia itu sendiri diciptakan dari fitrah (ruh suci, Q.S. al-Rûm/30: 30). Fitrah itu dalam perkembangan hidup di dunia, tidak selalu suci karena dikotori oleh berbagai faktor eksternal. Semakin kotor fitrah itu, manusia akan semakin lemah dan rapuh sampai pada gilirannya merana dan sengsara. Sebaliknya, bila fitrah itu terus terpelihara, disucikan, dimurnikan, dan dirawat, maka pemiliknya akan semakin kuat, tegak berdiri, dan kokoh. Ikhlas berfungsi memelihara fitrah itu agar terus bersih dan murni.

Oleh karena itu, Ibn Hazm menyebutkan bahwa ikhlas ibarat ruh dalam jasad. Jasad akan mati tak bertenaga ketika kehilangan ruh. Itulah maka kenapa para generasi salaf dan para mujahid dapat mengantarkan umat Islam menuju kejayaannya. Karena mereka hidup, memiliki ruh, dan bangkit. Mereka bekerja dan berjuang semata ikhlas lillahi ta’ala. Amal perbuatan mereka bergizi, penuh makna, dan kekuatan, karena ada ruhnya, yaitu ikhlas. Amal yang demikian mengantarkan umat mencapai masa kejayaannya.

Berbeda dengan kondisi, dimana setiap orang berbuat penuh pamrih, ukuran perbuatan dinilai dari banyaknya orang yang berdecak kagum. Hidup penuh kebohongan, kemunafikan dan kepura-puraan. Tampak hebat padahal rapuh, terlihat kaya padahal miskin, kelihatan khusyu’ padahal jahat. Maka kebobrokan akan melanda pelakunya, keluarga, bangsa dan negaranya. Hidup serba semu, kekayaan nisbi, hasil korupsi, jabatan diraih karena penuh tipu rekayasa, dan bermuamalah penuh basa basi menebar janji tanpa bukti. Ruh telah hilang dari jasad. Ikhlas telah lenyap dari amal perbuatan.

Ikhlas menjadikan manusia suka berbagi (manusia sosial). Semakin besar ikhlas melekat dalam hati, keinginan berbagi semakin besar. Hal itu karena manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang suka berbagi kesenangan dengan orang lain. Sebaliknya, orang yang tidak ikhlas, tidak mau berbuat sesuatu kalau tidak membawa keuntungan pribadi. Dia hanya mementingkan diri sendiri, menjadi manusia egois. Manusia egois hatinya selalu berkeluh kesah. Bila ditimpa kesusahan, resah, dan ketika mendapat kekayaan, amat kikir (Q.S. al-Ma’ârij/70: 19-21). Sedangkan manusia ikhlas adalah manusia sosial. Dia senang membagi kesenangan kepada orang lain. Semakin dibagi kesenangan itu, Allah melipatgandakan dengan berbagai kesenangan yang lain. Dia bahagia telah membagi, dan gelisah karena belum dapat kesempatan untuk membagi.

Ikhlas menjadikan manusia kaya. Tanda orang kaya dilihat dari pemberiannya. Semakin banyak pemberiannya, semakin kaya orang itu. Karena orang ikhlas itu suka berbagi, maka sesungguhnya dia orang kaya, meskipun mungkin miskin harta. Kalaulah tidak kaya harta, tapi kaya hati, syukur alhamdulillah bila kaya harta pula. Maka Rasulullah Swa. Bersabda: ”Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”. Allah berfirman: ”Kamu sekali-kali tidak akan mendapatkan kebaikan sehingga mampu memberikan apa yang kamu cintai”. (Q.S. Ali Imrân/3: 92). Hanya dengan keikhlasan yang tinggi seseorang dapat memberikan harta yang paling dicintai. Itulah orang kaya.

Ikhlas meningkatkan kinerja. Betapa tidak, guru yang ikhlas tidak perlu diawasi oleh kepala sekolah. Karyawan yang ikhlas, tidak penting direktur ada atau tidak. Pegawai yang ikhlas, tidak memandang kehadiran majikan. Semua bekerja tanpa pamrih. Mereka senang melakukan pekerjaan itu dengan sepenuh hati. Ikhlas beramal hasil maksimal, demikian pepatah mengatakan. Maka hasil dari perbuatan al-mukhlishîn (orang-orang ikhlas) itu adalah kemajuan, kejayaan, dan kemakmuran.
 
Ikhlas menciptakan hidup damai. Orang yang ikhlas tidak pernah membuat masalah, sehingga menimbulkan kekacauan, keributan, dan kerusakan. (Q.S. al-Rûm/30: 41). Orang yang ikhlas tidak pula suka menghindar dari masalah, lari dari kenyataan, lalu menyalahkan orang lain. Orang yang ikhlas adalah manusia problem solver (pemecah masalah) yang tidak pernah menghindar dari masalah. Dia menghadapinya dengan gagah berani, mencari solusi dengan cara-cara yang cerdas dan bijak. Manusia problem solver (pemecah masalah) kokoh berdiri bagaikan karang, menghadapi masalah dengan jiwa besar yang dibangun dari ruh ikhlas. Manusia ikhlas adalah manusia wajar, santun, ramah tidak gampang marah. Digambarkan dalam al-Quran sebagai orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan wajar dan ketika diajak berbicara oleh orang-orang bodoh mereka menghadapinya dengan salâm (kedamaian). (Q.S. al-Furqân/: 36). Masyarakat yang terdiri dari manusia ikhlas akan menebarkan kedamaian, menjadi sebuah dâr al-salâm (negeri damai) yang akan mendapatkan salâm qawlan min Rabb Rahîm (ucapan kedamaian dari Tuhan Yang Maha Penyayang, Q.S. Yâsin/36: 58).

Kiat Menjadi Manusia Ikhlas.

Untuk menjadi manusia ikhlas diperlukan latihan yang terus menerus. Bila masih ada rasa mengeluh dalam menghadapi hidup, berpikiran negatif ketika datang cobaan dari Allah, berprasangka buruk ketika musibah datang, ingin diperhatikan orang ketika berkarya, itu tanda keikhlasan berkurang.

Untuk menanamkan ikhlas dalam hati, mulailah setiap pekerjaan dengan ucapan bismillâhirrahmânirrahîm (dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Dihayati maknanya, bahwa pekerjaan yang sekarang dikerjakan hanya semata ibâdah (pengabdian) kepada Allah. ”Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah Pemelihara seluruh alam” (Q.S. al-An’âm/6: 162). Karena kita sedang mengabdi kepada-Nya, maka harus berusaha melakukan yang terbaik (amal shalîh), tidak asal-asalan, tidak sekedar berbuat. Allah berfirman: ”Dan katakanlah: bekerjalah (sebaik-baiknya), maka Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat amal perbuatanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada Allah Yang mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, dan akan mengabarkan kepadamu tentang apa yang kamu kerjakan” (Q.S. al-Taubah/9: 105).

Hindarilah bekerja karena pamrih. Allah membenci riya” (beramal untuk dilihat orang supaya mendapatkan sanjungan). Lihat Q.S. al-Nisâ’/4: 142, dan al-Mâ’ûn/: 6). Riya’ dikategorikan sebagai syirik samar yang sulit dideteksi. Rasulullah Saw. menengarai riya’ sebagai perilaku berbahaya yang dapat menimpa siapa saja, bahkan sekelas para sahabat. Beliau bersabda, “Maukah kukabarkan kepada kalian mengenai sesuatu yang lebih aku takutkan menyerang kalian daripada al-Masih ad-Dajjal?”. Para sahabat menjawab, “Mau ya Rasulullah.” Beliau berkata, “Yaitu syirik yang samar.Tatkala seorang berdiri menunaikan shalat lantas membagus-baguskan shalatnya karena merasa dirinya diperhatikan oleh orang lain.” (H.R. Ahmad dan Ibnu Majah). Ibn Qayyim berkata: “Tidak akan bersatu antara ikhlas di dalam hati dengan kecintaan terhadap pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang dimiliki oleh manusia, kecuali sebagaimana bersatunya air dengan api atau biawak dengan ikan makanannya-.” (al-Fawâ’id: 143).

Kerjakan setiap perbuatan dengan sebaik-baiknya, tanpa menunggu dilihat orang. Biasakan sedikit bicara banyak kerja. Bukan banyak bicara sedikit kerja. Membiasakan memberi tanpa orang lain tahu, sebagaimana yang dilukiskan Rasulullah Saw. tangan kanan memberi tangan kiri tidak melihatnya. Jangan seperti gambaran orang berilmu yang mencari ilmu untuk mengharap pujian. Rasulullah Saw. bersabda:“Barangsiapa yang menuntut ilmu yang semestinya dipelajari demi mencari wajah Allah akan tetapi dia tidak menuntutnya melainkan untuk menggapai kesenangan dunia maka dia pasti tidak akan mendapatkan bau harum surga pada hari kiamat kelak.” (HR. Abu Dawud).

Bebaskan diri dari prasangka buruk. Upayakan selalu berpikir positif dalam hidup. Natîjah (hasil) dari sebuah perbuatan terletak pada apa yang dipikirkan. Bila negatif akan menghasilkan produk negatif, tapi bila positif akan menghasilkan produk positif. Allah pun akan membela hamba-Nya sesuai dengan persepsi berpikir hambanya itu. Disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi: ”Ana inda zanni ’abdî bî (Aku berada pada persangkaan hamba-Ku)”. Bila sang hamba memiliki persangkaan buruk (sû’ al-zann), akan buruk pula hasilnya, dan bila sang hamba memiliki persangkaan baik (husn al-zann), maka Allah akan berada di sisinya, membela dan mewujudkan apa yang dipikirkannya itu.

Dalam hukum Fisika Kuantum disebutkan bahwa tingkah Iaku partikel yang berubah-ubah dari benda padat menjadi getaran vibrasi dan sebaliknya, sangat tergantung dari niat penelitinya. Sehingga dapat dimaknai bahwa semua benda yang kita Iihat merupakan susunan energi quanta yang tercipta oleh kerja pikiran dan perasaan kita sendiri.

Hal itu sesuai dengan hukum semesta, Law of Attraction, yang menyebutkan, setiap energi akan menarik energi yang sejenis. Dan karena pikiran dan perasaan itu bahan dasarnya adalah juga quanta, maka keduanya akan menarik apa yang kita pikirkan atau rasakan. Ketika kita sedang mengikhlaskan perasaan terhadap suatu masalah yang tengah kita hadapi. Maka kita sesungguhnya sedang menyelaraskan pikiran dan perasaan kita dengan kehendak Allah di level kuantum untuk menarik apa yang kita inginkan itu. Itulah maka ketika kita menyerahkan masalah kepada Allah tanpa prasangka buruk, kita ikhlaskan hanya kepada-Nya, saat itu Allah menghadirkan solusi tak terduga-duga untuk kebaikan kita. Allah berfirman: ”Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan jalan keluar baginya dan memberinya rizki dari arah yang tidak diduga-duga”. Q.S. al-Thalâq/65: 2-3.

Kemampuan kita dalam menggapai zona ikhlas, akan mengantarkan kita kepada suatu kehidupan merdeka, jiwa bebas, dan pribadi dinamis. Pikiran kita tidak dipenjara oleh dominasi kekuasaan yang memaksa. Jiwa bebas bergerak dalam nafas ruhani suci. Kita menjadi manusia dinamis yang terus berkarya dalam bakti dan pengabdian (ibadah) kepada Allah. Pribadi ikhlas akan selalu merasakan relaks, nyaman, damai penuh cinta dan bahagia, sehingga menghasilkan produk-produk positif. Semoga kita menjadi manusia ikhlas. Amin.

Jakarta, 24 Januari 2011.
Penulis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar