Laman

Kamis, 27 Januari 2011

Melamakan Sujud Terakhir, Bolehkah?


TANYA JAWAB  SEPUTAR SHALAT:
Oleh: Syakir Jamaluddin, M.A.
(Anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah/ 
dosen FAI, Ketua LPPI UMY)


Pada prinsipnya boleh melamakan sujud saat memperbanyak doa karena saat itulah seorang hamba sangat dekat dengan hambanya (HSR. Muslim, al-Nasâ’i, dll.). Tetapi apakah Nabi saw biasa melamakan sujudnya, khususnya pada saat sujud terakhir? Sejauh penelusuran penulis, Nabi saw tidak biasa memperlama sujudnya, termasuk sujud terakhir. Nabi saw memang pernah sujud lama, yakni saat sujud lama (سُجُودًا طَوِيلاً) dalam Shalat Gerhana Matahari yang bertepatan dengan wafatnya Ibrahim putra Nabi saw (HSR. al-Bukhâri, al-Nasâ’i) dan saat cucunya naik di punggungnya (HSR. al-Nasâ’i, Ahmad, dll., dari Syaddâd bin al-Hâdi). Hadis kedua ini menceritakan bahwa suatu ketika Rasulullah saw menggendong al-Hasan atau al-Husayn lalu meletakkannya saat mulai shalat. Namun saat sujud, ia naik dan berkendara di punggung Nabi saw hingga sujud beliau jadi lama, tidak seperti biasanya. Waktu itu para sahabat mengira telah terjadi sesuatu atau beliau mendapatkan wahyu. Saat dikonfirmasi hal tersebut, Nabi saw menjawab:

كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ، وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي، فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ.
Semua itu tidak ada (baca: tidak benar), akan tetapi waktu sujud itu anakku (yakni: cucuku) naik berkendara (di punggung)ku, lalu saya tidak suka untuk menyegerakannya hingga ia puas.” (HSR. Al-Nasâ’i, 2/229: 1141; Ahmad, 3/493: 16016; al-Hâkim, 3/726: 6631; al-Bayhaqi, 2/263: 3236)

Jika kita perhatikan hadis di atas, maka tentu tidak tepat untuk dijadikan sebagai dasar melamakan sujud jika tidak ada keperluan khusus atau ‘udzur. Dengan demikian, walaupun Nabi saw pernah melamakan sujudnya dan secara hukum boleh –khususnya jika ada pengaduan/permintaan khusus, bahkan boleh menangis dalam sujud (QS. Maryam/19: 58: خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا)--, [1] namun sebaiknya tidak dijadikan kebiasaan/tradisi karena Nabi saw tidak membiasakan sujud lebih lama dari biasanya.



[1] Saat sujud lama dalam shalat gerhana, selain mengagungkan Allah Yang Menciptakan Alam Semesta termasuk gerhana matahari, bisa jadi Nabi saw sujud lama karena sekaligus mengadu kepada Allah SWT atas kehilangan putra tercintanya: Ibrahim. Wa-llâhu a‘lam.

1 komentar:

  1. assalamu'alaikum...

    apakah ada syari'at diperbolehkannya berdo'a (dalam lafal arab) sesuka kita di tasyahud akhir sebelum salam setelah do'a mohon perlindungan dari empat hal (allahumma inni 'audzubika min adabi...dst)?
    misalnya do'a supaya rumah diberi barokah (robbi anzilni mun zalammu...dst), atau do'a lain.
    apakah hal ini pernah juga dilakukan Rasulullah dan para sahabat?

    matur suwun.

    wassalamu'alaikum...

    BalasHapus