Laman

Kamis, 27 Januari 2011

Din Syamsuddin Diteror 100 Spanduk Karena Kritik Pemerintah



Gerakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang dipmotori oleh Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr. H. Din Syamsuddin terhadap pemerintah rupanya telah memanaskan telinga banyak orang. Setidaknya ada Menteri yang telah “kebakaran jenggot” oleh pernyataan tersebut.
Ironisnya  sikap kritis terkait  kontroversi pernyataan tokoh agama tentang kebohongan rezim SBY berujung pada penyerangan figur pribadi. Serangan di antaranya disuarakan kelompok yang menamakan diri Gerakan Anti Din Syamsuddin (Gadis). Gerakan Anti Din Syamsuddin (Gadis) hari ini, Senin (17/1/2011) menggelar aksi pemasangan spanduk di 100 titik di Jakarta.

Spanduk yang antara lain bertuliskan Din Syamsuddin Segeralah Bertaubat Kembali Ke Jalan yang benar, Kami Sudah Muak Dengan Povokasi Din Syamsuddin dan Din Provokator Berkedok Tokoh Agama/Intelektual antara lain terlihat di kawasan Blok M, Senayan, Pancoran, Gatot Subroto, Sudirman, Slipi, Thamrin, Monas, Kebun Sirih, Harmoni, Gunung Sahari, Senin, Salemba, Matraman, Rawamangun, Cawang, dan Cililitan.

Seperti diketahui, Din Syamsuddin yang kini menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah adalah salah satu tokoh agama yang juga ikut mendukung Gerakan Anti Kebohongan yang dicetuskan Tokoh Lintas Agama beberapa waktu lalu.
Din yang turut dalam penyusunan pernyataan sikap yang berjudul kebohongan rezim SBY dituduh sebagai provokator yang berkedok tokoh agama.

Sebelumnya, serangan yang bersifat pribadi terhadap Din juga telah dilakukan politisi Partai Golkar yang juga Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad.
Menurut Fadel, dengan turut dalam penyusunan pernyataan sikap berjudul kebohongan rezim SBY, Din tidak layak disebut sebagai intelektual. Fadel bahkan menyebut Din Syamsuddin sebagai tokoh antagonis.

Apa yang dikemukakan tokoh lintas agama tentang kebohongan adalah berdasarkan fakta-fakta yang dikumpulkan oleh Badan Pekerja, kata Din. Kebohongan ini mengandung arti adanya kesenjangan antara ucapan dan perbuatan, yaitu apa yang diucapkan pemerintah termasuk Presiden, tidak menjelma menjadi kenyataan.

Spanduk anti Din Syamsuddin jelas melukai umat Islam, khususnya warga dan simpatisan Muhammadiyah. Warga persyarikatan Muhammadiyah di tanah air jangan sampai terpancing dengan aksi tersebut. Seharusnya pemerintah bersikap cerdas dan mau mendengar  dengan sikip kritis tersebut.  Pemerintah selayaknya memperhitungkan Muhammadiyah sebagai organisasi Islam tertua dan terbesar di dunia yang tanpa kerja sama dengan pemerintah pun, Muhammadiyah akan tetap eksis, karena gerakan dan ideologi Muhammadiyah ini sudah sangat mengakar di masyarakat. Ribuan amal usahanya sudah tersebar di seluruh Indonesia. Tidak lain, itu semua adalah bentuk kontribusinya bagi seluruh rakyat Indonesia. Oleh sebab itu, wajar kalau Muhammadiyah tetap kritis terhadap pemerintah, itu menunjukan bahwa Muhammadiyah tetap peduli terhadap bangsa dan Negeri ini. inilah yg harus dipahami oleh pemerintah SBY dan pendukungnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar