Laman

Selasa, 23 November 2010

Melintasi Zaman Dengan Kesucian Jiwa

Jurusan Komunikasi & Penyiaran Islam FAI-UMY
Wakil Ketuaa Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah


Bal’am Ibnu Ba’ura. Nama itu tertera dalam kisah peradaban masa lalu. Tepatnya pada masa Nabi Musa ‘alaihissalam. Dengan segala kapasitas intelektual, moral dan penghormatan yang tinggi dari umat masa itu, ia tampil menjadi sosok yang sangat tersohor. Karena itu pula Nabi Musa mempercayainya untuk mengemban amanah dakwah kepada penguasa Madyan.
Kepiawaian penguasa Madyan, tampaknya, tidak dapat disepelekan begitu saja. Segala fasilitas kehidupan serba-mewah, diberikan kepada Bal’am Ibnu Ba’ura, yang seiring dengan perjalanan waktu membuatnya sungkan menyampaikan kebenaran (kalimat al-Haq) kepada pemimpin Madyan tersebut. Ekstremnya kemudian, Bal’am tidak saja malu, bahkan ia mendeklarasikan kepada publik : ia secara resmi meninggalkan ajaran Nabi Musa, sekaligus bergabung dengan rezim tiran Madyan untuk bersatu-padu melawan dakwah dan perjuangan Nabi Musa ‘alaihissalam.
Pergeseran yang teramat sistemik , sistematis,   dan  berlangsung  dengan sangat halus pada diri seorang Bal’am. Dalam terma Al-Qur’an (Al-A’raf/7:175) disebut, Al-Insilakh. Inilah sebuah tragedi teologis dan sosiologis yang sangat merisaukan. Bahkan, tragedi ini nyaris tidak dirasakan apalagi disadari oleh individu, kelompok sosial maupun oleh sebuah bangsa yang besar. Sebuah peradaban yang mengalami pergeseran dan inhithath (degenerasi) ke titik nadir kehancurannya (tadahwur), tapi justeru generasinya merasa sedang berada dalam kemajuan dan kedigdayaan. Inilah tragedi dan malapetaka peradaban (al-insilakh al-hadlari)! Peradaban yang minus stamina dan orientasi spiritual, sekaligus kehilangan identitas dan jati diri (shibghah).
Rasulullah ‘alaihissalam pernah bertutur, “”Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat manusia pada setiap kurun seratus tahun orang yang memperbarui ajaran agamanya” (Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Hurairah). Sabda ini memberikan signal yang sangat tegas bahwa usia sebuah peradaban tidak dapat bertahan secara baik dan otentik dalam kurun waktu melampaui seratus tahun. Suatu peradaban itu akan memasuki masa aus-nya di angka satu abad, jika para pewarisnya tidak menyiapkan generasi peradaban untuk masa berikutnya. Oleh karena itulah diperlukan sebuah mekanisme alamiah untuk memperbaharuinya. Pembaharuan itulah yang kita kenal sebaga “tajdid”.
Sejatinya, tajdid tidak bermakna dekonstruksi. Bukan juga diartikan sebagai “amputasi” peradaban itu sendiri. Tajdid memberikan makna dan spirit “re-fine, memperindah kembali. Sejak awal kehadirannya di samudera peradaban Islam nusantara, Muhammadiyah kita telah memformulasikan konsep tajdid & re-fine tersebut dalam narasi besar : al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah!. Dalam muktamar satu abad-nya di kampus kita ini, dirumuskan kembali dalam sebuah tema “Gerak Melintasi Zaman: Dakwah dan Tajdid Menuju Peradaban Utama”.
Peradaban utama terbaca di atas tidak lain dari peradaban masyarakat yang sebenar-benarnya, yang terus menerus digemakan di Persyarikatan kita ini. Inilah peradaban khairu ummah yang didedikasikan untuk kemanusiaan sejagad dengan dua artikulasi pokok; amar ma’ruf dan nahi munkar. Pesona masyarakat Islam yang sesungguhnya itulah yang menjadi anak kandung gerakan dakwah dan tajdid (re-fine) Muhammadiyah yang menyinari umat manusia secara universal, sebagai mata rantai misi dan risalah gerakan Islam, rahmatan lil-‘alamin.
Ma’rifatu Al-Zaman : Ikhtiar Mendiagnosa Peradaban
Narasi besar di atas tidaklah selalu berjalan linear dan vertical, tanpa aral melintang. Sejak masa kenabian, junjungan kita, Nabi Agung Muhammad ‘alaihissalam telah mengisyaratkan karakteristik zaman yang akan dilalui oleh umatnya. Kepada sahabatnya, Hudzaifah Ibnul Yaman berpesan, betapa dahsyatnya dialektika zaman yang akan dilalui umatnya. Tidak ada zaman yang kita lalu kecuali lebih buruk dari zaman sebelumnya. Lebih lanjut, Rasulullah menjelaskan karakter akhir zaman : munculnya para pemimpin yang dalam menunaikan amanah kepemimpinan tersebut bersikap masa bodoh dengan sumber ajaran Islam (Al-Qur’an & Sunnah). Kedua sumber ini menjadi disfungsional dan tidak otoritatif sama sekali, meskipun diapresiasi sedemikian rupa dalam tataran kultur dan budaya lokal. Generasinya cenderung apatis, anti-Tuhan, berkarakter satanis (syaithan) yang bersemayam di tubuh manusia!.
Membincangkan tanda zaman semacam ini  tidaklah dalam perspektif fesimisme, apalagi fatalisme, pasrah tanpa ikhtiar membangun zaman dan peradabannya. Sinyalemen profetik di atas justeru me-refresh dan mengaktivasi kembali titik terdalam area spiritual, akal dan jasmani kita. Tak ubahnya seorang yang hendak menyeberang jalan yang padat lalu lintasnya, kita akan bersikap mawas diri dan tidak semberono. Inilah ma’rifatuz zaman, melek zaman yang diajarkan oleh qudwah kita, Muhammad ‘alaihissalam.
Dalam perspektif Muhammadiyah wacana ma’rifatuz zaman yang penulis kemukakan, sejatinya jauh hari telah digemakan, terkhusus dalam Muktamar ke-45 di Malang periode lalu, 2005. Lihatlah dengan kebeningan mata hati apa yang telah dirumuskan oleh para sesepuh, orang tua dan pimpinan kita dalam untaian “Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad” (Zhawahir al-Afkar al-Muhammadiyyah Abra Qarn min al-Zaman).
Selain menegaskan konsistensi dan akhlaq istiqamah dalam mengarungi dinamika zaman, sejak masa berjihad melawan kolonialisme klasik hingga masa reformasi saat ini, Muhammadiyah menyatakan pandangannya tentang kehidupan umat manusia masa ini yang sarat paradox. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi melahirkan pencemaran lingkungan hidup dan eksploitasi alam yang tak terkendali, berkembangnya nalar-instrumental yang memperlemah naluri-naluri alami manusia, melahirkan sekularisasi kehidupan; pandangan anti-Tuhan dan serba dikotomik. Kehidupan modern  melahirkan antitesis post-modern dengan laku hidup serba-bebas (supra-liberal), serba-boleh (anarkhis), dan serba-menapikan nilai (nihilisme), sehingga memberi peluang semakin terbuka bagi kemungkinan anti-agama (agnotisme) dan anti-Tuhan (atheisme) secara sistematis. Demokrasi, kesadaran akan hak asasi manusia, dan emansipasi perempuan membawa implikasi pada kebebasan yang melampau batas dan egoisme yang serba liberal, destruktif terhadap relasi-harmoni antar manusia.
Secara sistemik dan sistematis, masyarakat terjebak pada egoisme (ta’bid al-nafs), penghambaan terhadap materi (ta’bid al-mawãd), penghambaan terhadap nafsu seksual (ta’bid al-syahawãt), dan penghambaan terhadap kekuasaan (ta’bid al-siyasah) yang menggeser nilai-nilai fitri (otentik) manusia dalam bertauhid (keimanan terhadap Allah SWT) dan hidup dalam kebaikan di dunia dan akhirat. Globalisasi justeru melahirkan sikap ekstrimisme baru, fanatisme agama tak terkendali, primordialisme etnik, dan kedaerahan semakin mengokohkan sekat kehidupan antar sesama. Neoliberalisme dan kapitalisme global hanya berpihak kepada kaum borjuis dan semakin menistakan hak-hak kaum dlu’afa’ dan mustadl’afin.
Hampir seratus tahun yang lalu, KH Ahmad Dahlan rahimahullah, di saat fajar peradaban Muhammadiyah mulai menyingsing di ufuk timur, juga mengajarkan ma’rifatuz zaman yang tidak berbeda dengan yang tertera di atas kepada murid-muridnya. Beliau berkeyakinan bahwa malapetaka terbesar yang mengancam manusia ialah sikap mempertuhankan hawa nafsu, yang dinyatakannya sebagai musyrik dan paganis! Menghambakan diri kepada hawa nafsu tampil dengan multi-wajah; taqlid buta kepada orang tua dan nenek moyang, patuh mengikuti perilaku kebiasaan yang menyimpang dalam lingkungan dan masyarakat; mendudukkan cinta makhluk di atas cinta kasih kepad Allah ta’ala.
KH Ahmad Dahlan rahimahullah mengajarkan murid-muridnya bahwa berhala hawa nafsu merupakan pokok berhala yang menyesatkan. Pengaruhnya sedemikian kuat dan merajalela. Hawa nafsu mematikan kemampuan dan potensi manusia untuk membedakan antara al-Haqq dan al-Bathil. Bahkan manusia bertabiat sebagai hewan karena terjajah oleh hawa nafsu tersebut. Manusia berbuat semaunya, mengabaikan tatanan etis dan moral. Inilah yang kemudian melahirkan kekacauan, kerusakan dan kerugian kepada dirinya sendiri, masyarakat dan negaranya.
Subhanallah! Tak satupun di antara kita hari ini yang bertatap muka dengan beliau, berinteraksi dan bercengkerama, kecuali apa yang kita warisi dari kisah-kisah indah dan bersahaja dari sisa-sisa generasi peradaban sebelumnya seperti Allahu yarhamuh KH Suprapto Ibnu Juraimai, umpamanya. Tapi yakinlah bahwa, pada tataran ruhiyah, sebagai esensi tertinggi dan energi kuantum dari bangunan materi kemanusiaan kita yang lemah ini, ada satu kepastian : adanya pertautan dan ketersambungan. Inilah pertautan ruh-ruh yang saling mengokohkan, sebagaimana terbaca dalam pesan kenabian “al-arwahu junudun mujannadah”.
Kesucian Jiwa Sebagai Pass Word Melintasi Zaman
Jika dinamika zaman dan peradaban seperti di atas seringkali memaksa, atau bahkan menteror manusia agar  meninggalkan poros utama fitrah dan kesuciannya, mungkinkah manusia menemukan kembali fitrah dan kembali ke orbit semula? Inilah kegelisahan spiritual KH Ahmad Dahlan rahimahullah. Beliau mengajarkan kepada kita untuk berkata “bisa”! Karena memang itulah wajah otentik kita, kesucian kita.
Dalam pandangan pendiri Muhammadiyah ini, orang yang berbahagia dan beruntung melintasi zaman ialah orang-orang yang senantiasa melakukan pensucian diri dan  jiwanya. Inilah laku tazkyatun nufus yang terinspirasi melalui Kalam Ilahi, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (Al-A’la : 14-17).
Tazkyatun nufus dalam perspektif Muhammadiyah bukanlah jebakan romantisme spiritual yang seringkali bersifat fatalis (jabariyah) dan menafikan relasi dengan alam serta dunia nyata. Tazkyatun nufus yang kita yakini dan lakoni ialah proses pensucian jiwa yang aktif dan produktif sekaligus berkontribusi positif dalam menata ulang dan membangun kembali rumah peradaban kita. Itulah sebabnya beliau menggugah murid-muridnya, “Apakah “kesucian diri” sebatas klaim semata? Bukankah orang-orang Hindu, Budha dan Nasrani juga mengakui hal serupa? “Apakah kamu seperti mereka?”. Baginya, tazkyatun nufus mesti diaktualisasikan dalam kesalehan sosial. Tidak boleh berhenti pada level individu semata.
Tazkyatun nufus ialah titik pertautan tiga amalan sekaligus; Dzikrullah, shalat dan ingat kematian. Pensucian jiwa meniscayakan kokohnya relasi kita dengan Allah. Asma’ & ShifatNya aktual dalam laku kehidupan kita. Totalitas kehidupan kita berada pada bingkai orientasi kepada Allah semata. Inilah esensi penegakan shalat yang melahirkan pribadi dan generasi peradaban yang visioner; menembus batas kehidupan alam materi: ingat kematian!.
Kesucian diri dan jiwa teridentifikasi melalui kata kalbu kita yang lillahi ta’ala, tidak munafik dan ambivalen. Akal dan karunia intelektual yang tersucikan tak akan destruktif dan mengkhianati peradaban yang berketuhanan (theistic-worldview). Pada tataran praksis, kita tidak terjebak pada kubangan sekularisasi yang menafikan relasi alam semesta dengan Penciptanya, meniadakan dimensi spiritual hidupnya serta berpandangan serba dikotomik, anti pandangan tauhidik. Inilah makna tazkyatun nufus: mensucikan dan purifikasi terhadap totalitas organ kemanusiaan kita sebagai syarat dan pass word melintasi zaman. Semoga kita istiqamah ber-Muhammadiyah!

Langkah Terpenting Dalam Mewujudkan Masyarakat Islam Yang Sebenar-Benarnya


Oleh : dr. H. Agus Sukaca, M Kes.
(Ketua Majelis Tabligh PP MUhammadiyah)

Terwujudnya Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya  adalah visi jangka panjang Muhammadiyah yang tidak terbatas waktu. Visi adalah gambaran masa depan yang akan diwujudkan yang sekarang belum ada. Suatu visi akan menjadi kenyataan apabila diyakini oleh pemilik visi sebagai gambaran masa depan yang dapat diwujudkan. Semakin  yakin seseorang terhadap kemungkinan terwujudnya, peluangnya semakin besar. Demikian pula sebaliknya! Oleh karena itu kita harus meyakini bahwa visi Muhammadiyah dapat kita wujudkan. Kalau para pemimpin, kader, dan anggota Muhammadiyah ragu-ragu, atau bahkan berpikiran mustahil dapat diwujudkan, pasti visi tersebut tidak pernah akan menjadi kenyataan. Bagaimana mungkin kita berjuang terhadap sesuatu yang kita tidak yakin bisa mencapainya? Tentu semangat akan menjadi lemah, dan lama-lama mati! Untuk menumbuhkan keyakinan yang kuat, kita harus mempunyai gambaran yang konkret tentang visi kita dan kemudian menentukan langkah-langkah yang tepat untuk menujunya.
Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah menggambarkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sebagai masyarakat yang sentosa dan bahagia, disertai nikmat Allah yang melimpah-limpah, sehingga merupakan “Baldatun Thayyibatun wa  Rabbun Ghafuur”, yakni suatu negeri yang indah, bersih, suci, makmur, di bawah perlindungan Tuhan yang Maha Pengampun. Masyarakat semacam itu, selain merupakan kebahagiaan di dunia bagi seluruh manusia, juga akan menjadi tangga bagi ummat Islam untuk memasuki gerbang surga “Jannatun Na’iem” untuk mendapatkan keridhaan Allah yang abadi. Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya itu adalah merupakan rahmat Allah bagi seluruh alam, yang akan menjamin sepenuhnya keadilan, persamaan, keamanan, keselamatan, dan kebeasan bagi anggota-anggotanya.
Gambaran masyarakat Islam yang sebenar-benarnya secara sederhana dapatlah kita gambarkan sebagai tatanan masyarakat yang hidup berdampingan secara harmonis, didominasi oleh pribadi-pribadi muslim yang sebenar-benarnya dengan ciri: bertauhid murni, berakhlak mulia, taat beribadah sesuai tuntunan Rasulullah, dan bermu’amalat menurut ajaran Islam. Pribadi-pribadi tersebutlah yang menguasai lembaga-lembaga kenegaraan dan pranata-pranata sosial yang ada sehingga semuanya berjalan sesuai yang dikehendaki ajaran Islam.
Berangkat dari gambaran sederhana tersebut, langkah terpenting untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya adalah membina sebanyak mungkin pribadi-pribadi muslim yang sebenar-benarnya hingga mencapai jumlah yang memungkinkan untuk mendominasi semua lembaga kenegaraan dan pranata-pranata sosial lainnya. Selanjutnya, biarkan pribadi-pribadi yang terbina tersebut mengaktualisasikan peran kebangsaan dan kemasyarakatannya sehingga berjalan sesuai yang dikehendaki oleh ajaran Islam. Muhammadiyah seharusnya menfokuskan pada langkah-langkah penting ini. Biarkan urusan politik dilaksanakan oleh pribadi-pribadi muslim yang telah dibina oleh Muhammadiyah! Muhammadiyah berkonsentrasi menggerakkan mesin organisasi untuk memproduksi sebanyak-banyaknya pribadi muslim yang sebenar-benarnya

Strategi Membina Pribadi Muslim Yang Sebenar-Benarnya

Mewujudkan pribadi muslim yang sebenar-benarnya memerlukan pembinaan yang tersistem, intensif dan jangka panjang. Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah mengatur pembinaan anggota dan simpatisan dilakukan melalui pengajian-pengajian (pengajian umum, anggota, muballigh, pimpinan), kursus-kursus (kursus umum, anggota, kader, muballigh), dan jama’ah. Pengajian adalah lembaga pertemuan berkala anggota jama’ah untuk meng-update atau meningkatkan pemahaman ajaran Islam, menjaga semangat keberagamaan, dan menjaga sillaturrahmi sesama anggota jama’ah. Sedangkan kursus adalah lembaga pengajaran berjangka untuk bidang-bidang tertentu secara lebih konprehensif, misalnya: kursus tauhid, kursus ibadah (thaharah, shalat, zakat, manasik haji, dll),  kursus akhlak, kursus keluarga sakinah, kursus kader (Baitul Arqam, Darul Arqam, Latihan Instruktur), kursus muballigh, dll.
Pengajian-pengajian dan kursus-kursus tersebut seharusnya dilembagakan secara permanen dengan manajemen yang baik dan dikelola dengan sungguh-sungguh sehingga menjadi lembaga yang profesional. Untuk kepentingan tersebut, pimpinan persyarikatan perlu menetapkan pengelola  dan ustadz tetapnya untuk masing-masing lembaga pengajian dan kursus.
Jama’ah merupakan amal usaha wajib bagi ranting. Kewajiban membina jama’ah mengisyaratkan bahwa setiap anggota Muhammadiyah haruslah berada  dalam jama’ah. Dengan berjama’ah, semangat ber-Islam akan terjaga, dan hidupnya akan terpimpin. Dalam jama’ah, pembinaan akan intensif dan berlangsung dalam jangka lama. Jama’ah dipimpin oleh seorang Kader Muhammadiyah yang bertugas (1) memotivasi dan  menjaga agar masing-masing anggota jama’ahnya mengikuti pengajian rutin dan kursus-kursus yang diselenggarakan; (2) membimbing anggota jama’ah mengamalkan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya; (3) menjaga agar anggota jama’ahnya senantiasa berada dalam jama’ah, dan tidak keluar dari jama’ah sampai akhir hayat, (4) Apabila anggota jama’ahnya pindah tempat tinggal, ia menghubungkan dengan jama’ah yang ada di tempat tinggalnya yang baru dan menyerahkannya kepada pemimpin jama’ahnya untuk pembinaan lebih lanjut; (5) menduplikasikan kemampuannya memimpin jama’ah kepada anggota-anggotanya dengan mensponsori mereka menjadi kader. Dengan dipimpin oleh Pemimpin Jama’ah inilah, anggota dan simpatisan Muhammadiyah diproses dalam sistem pembinaan melalui pengajian dan kursus.
Alur pembinaan dimulai dengan proses rekruitmen anggota jama’ah oleh para kader dari kalangan anggota dan simpatisan Muhammadiyah. Selanjutnya mengajak mereka mengikuti pengajian rutin dan kursus-kursus, membina dalam jama’ah, mensponsori menjadi anggota, mengikitsertakan dalam perkaderan dan pelatihan muballigh hingga akhirnya sebagian di antara mereka menjadi kader dan muballigh. Kader yang dihasilkan melakukan hal yang serupa mulai dari rekruitmen sampai menjadi kader. Kewajiban seorang kader adalah menduplikasikan dirinya kepada anggota jama’ah binaannya sehingga menjadi kader seperti dirinya. Dengan cara ini sistem pembinaan menjadi terstruktur, dilaksanakan secara bertahap, sampai menjadi pribadi yang dicita-citakan.
Pembinaan sasaran dakwah menjadi pribadi muslim yang sebenar-benarnya sesungguhnya merupakan pembinaan sikap seseorang, yang keberhasilannya ditentukan oleh apa yang menjadi tujuannya, apa yang dilihat, didengar, dan dirasakannya. Di samping pembinaan dengan alur sebagaimana tersebut di atas, hal paling penting adalah membantu mereka menetapkan tujuan hidupnya: “menjadi pribadi muslim yang sebenar-benarnya” sehingga layak menjadi penghuni surga jannatun na’iem. Apabila tujuan hidup tersebut sudah menjadi impian terbesar hidupnya, ia akan mempengaruhi seluruh sistem tubuhnya untuk bergerak mengejar impinan tersebut. Semangat mewujudkannya akan meningkat apabila pikirannya didominasi oleh informasi positif yang masuk melalui mata dan telinganya. 
Menjadi tugas pimpinan menyediakan informasi-informasi positif tersebut. Informasi melalui jalur visual dapat dipenuhi dengan menyediakan sebanyak mungkin bahan bacaan positif berupa buku-buku dan majalah . Informasi melalui jalur audio dapat dipenuhi dengan menggandakan rekaman ceramah dan pengajian yang bersifat motivasional. “Suara Muhammadiyah” saya kira bisa dikembangkan menjadi majalah tuntunan beragama yang bisa menjadi bacaan wajib bagi siapa saja yang ingin beragama dengan baik dan benar.
Dengan demikian, pola pembinaan menjadi sederhana: ajak ikut pengajian dan kursus agama, hidup berjama’ah, membaca bacaan positif dan dengarkan kaset/rekaman, ikuti perkaderan dan pelatihan muballigh, maka mereka akan berlari menuju pribadi muslim yang sebenar-benarnya. Ibarat perjalanan menuju puncak gunung, kita cukup menunjukkan di mana puncaknya, peta perjalanannya, dan memastikan mereka telah melangkah dengan benar.
Wallahu a’lam.


[1] Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur

Menemukan Momentum Mewujudkan Muslim Yang Sebenar-benarnya


Khutbah Idul Adha
Oleh: dr. H. Agus Sukaca, M.Kes
ألَسلامُ عليكم ورحمةُ الله وبركاتُهُ
الَحمدُ ِلله. نحمده ونَسْتَعِينُهُ و َنسْتَغْفِرُهُ  وَنتُوبُ اليه , ونعوذ بِهِ من شرور أنفسنا. من يهدِ اللهُ فلا مضلَ لَهُ، و من يضلل فلا هادى له، ونشهد ان لا اله الاٌ الله و انَّ محمّدًا عبده ورسولُه، أرسله بالحقِّ بشيرًا ونذ يرًا بين يدى الساعة، من يطعِ اللهَ و رسولَهُ فقد رشدَ ومن يَعْصِمُهَا فقد غَوَى، نَسْأَلُ الله ربنا أنْ يَجْعَلَنَا مِمَّنْ يُطِيْعُهُ و يُطِيْعُ رَسُوْلَهُ، و يَتَّبعُ ِرضوانَهُ و يَجْتَنِبُ سَخَطَهُ فَإنَّمَا نحن بهِ و لهُ.
الله أكبر, الله أكبر, لا إله إلا الله الله اكبر, الله اكبر ولله الحمد.
أمٌا بعد, فيا عبادالله أوصيكم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتٌقون، فاتقواالله حقٌ تقاته ولاتموتنٌ إلا و أنتم مسلمون
الله أكبر, الله أكبر, لا إله إلا الله ، الله اكبر, الله اكبر ولله الحمد.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah!
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahuwata’ala, dzat yang kita mengabdi hanya kepada-Nya. Dzat yang telah memberikan petunjuk kepada ummat manusia dengan risalah yang diturunkan melalui rasul-Nya Muhammad SAW.
Sungguh siapa saja yang mengikuti petunjuk-Nya, mereka sedang menempuh jalan yang lurus menuju syurga jannatun na’iem.
Shalawat dan salam semoga tercurah atas nabi kita Muhammad SAW beserta segenap keluarga, sahabat dan pengikutnya yang setia.
الله أكبر, الله أكبر, ولله الحمد.
Selayaknyalah kita bersyukur kepada Allah, hari ini tanggal 10 Dzulhijjah 1431 H dapat melaksanakan shalat ‘Iedul Adha di lapangan ini, meskipun dalam suasana keprihatinan. Insya Allah tetap dengan penuh keimanan dan pengharapan akan ridha Allah SWT.
Kita dalam suasana prihatin oleh karena Allah sedang menguji kita dan saudara-saudara kita yang tinggal di sekitar gunung Merapi dengan letusan gunung dengan segala akibatnya. Banyak yang terpaksa harus mengungsi meninggalkan tempat tinggalnya dengan segala macam kesulitan yang dihadapi. Bahkan ada yang sampai terluka dan meninggal dunia. Tentu, kesemuanya itu wajib kita hadapi dengan penuh kesabaran.
Semua peristiwa yang dihadapi oleh seorang mukmin akan memberikan dampak positif baginya. Allah menguji keimanan seseorang dengan 2 hal.
Pertama dengan kemudahan, kelapangan. Seorang yang beriman menghadapinya dengan penuh kesyukuran. Segala anugerah Allah yang diberikan kepadanya ia manfaatkan sepenuhnya untuk hal-hal yang bermanfaat dan diijinkan Allah. Misalnya, mendapatkan kemudahan tidak terkena bencana merapi sehingga tidak harus mengungsi, ia syukuri dengan menyumbangkan sebagian rizkinya untuk korban Merapi, menjadi relawan, dan sebagainya.
Kedua, dengan kesulitan dan musibah. Sesulit apapun urusan yang ia hadapi, ia tetap bersabar. Ia berprasangka baik kepada Allah dan menganggap kesulitan dan musibah yang ia alami adalah bagian dari skenario Allah untuk menguatkan imannya.
Seorang mukmin berusaha menghadapi kedua model ujian tersebut dengan sebaik-baiknya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“menakjubkan sekali urusan orang-orang mukmin: segala urusannya semuanya baik baginya, dan tidak ada yang seperti itu kecuali orang mukmin; apabila diberikan kemudahan (kesempatan, rizki, nikmat) ia bersyukur, dan akibatnya baik baginya; dan apabila diberikan kesulitan (kesempitan, musibah) ia bersabar, dan akibatnya baik baginya”
الله أكبر, الله أكبر, ولله الحمد.
Sikap seorang mukmin adalah senantiasa ridha dengan keputusan Allah. Apapun keputusan-Nya, ia rasa sebagai yang terbaik baginya. Ia tak mau berkeluh kesah, karena ia tahu keluh kesah adalah kebiasaan pecundang. Ia bersyukur dan bersabar atas semua ketetapan Allah. Nilai-nilai kepasrahan itulah antara lain yang terkandung dalam ajaran Qurban.
Qurban adalah ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah SAW,  mengambil pelajaran yang diberikan oleh Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau berqurban setelah mendapatkan wahyu Allah yang disampaikan lewat mimpi untuk menyembelih puteranya Isma’il, sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an:
فلمَّابَلَغَ مَعَهُ السّعْىَ قاَلَ يآ بُنَىَّ إنِّى أَرَى فِى المَنَاِم أَنّىِ أذْبَحُكَ فَانْضُرْ ماذاَ ترى, قال يآأبت افعل ما تؤمر ستجدنى إنشاءألله من الصابرين (الصفّات 102)
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: ”Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (As Shaffat 102).
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Coba banyangkan, perintah itu ditujukan kepada kita! Betapa hancurnya hati bila harus mengorbankan anak yang sangat kita cintai, yang diharapkan dapat meneruskan perjuangan kita. Tidak demikian halnya dengan Nabiyullah Ibrahim. Tatkala menyadari ada perintah Allah lewat mimpi untuk menyembelih Isma’il, serta merta beliau kabarkan kepada Isma’il tanpa ragu. Ibrahim adalah seorang Nabi yang Hanif, yang seluruh hidupnya didedikasikan sepenuhnya untuk Allah. Apapun perintah Allah dilaksanakannya dengan sepenuh hati!.
Demikian halnya Isma’il. Ia menjadi anak shaleh yang sangat cintanya kepada Allah dan tinggi baktinya kepada orang tuanya. Ketika diberitahu tentang perintah Allah untuk menyembelihnya, dengan penuh keyakinan ia mempersilahkan ayahnya untuk mengeksekusinya.
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Sikap keduanya merupakan puncak keimanan! Dihadapkan dengan perintah Allah, tidak ada hal apapun yang dapat menghalangi mereka melaksanakannya. Tidak anak, tidak pula ketakutan kehilangan nyawa. Semua direlakan!
Anak merupakan ujian nyata bagi manusia. Mereka rela berbuat apa saja demi anak kekasih hatinya. Bahkan banyak yang sampai melanggar larangan Allah dan mengabaikan perintah-Nya. Demikian halnya dengan nyawa, banyak orang mengabaikan perintah Allah  dan melanggar larangan-Nya ketika harus mempertaruhkan nyawa.
Sikap Nabiyullah Ibrahim dan puteranya Isma’il menjadi suri teladan bagi manusia beriman, karena kecintaan mereka kepada Allah di atas segala-galanya. Seharusnyalah kita juga bersikap demikian. Firman Allah dalam surah At Taubah ayat 24  :
قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُڪُمۡ وَإِخۡوَٲنُكُمۡ وَأَزۡوَٲجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٲلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ۬ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡڪُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ۬ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِىَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِينَ (٢٤)
Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya,  rumah-rumah tempat tinggal yang   kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
Bila kita ingin mendapatkan kecintaan Allah dan menghindari murka-Nya, haruslah menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya di atas segala-galanya. Kita harus mengalahkan segala macam kepentingan lainnya yang berhubungan dengan orang tua, anak, saudara, isteri, keluarga, harta, dan tempat tinggal.
Itulah sesungguhnya hakekat ajaran tauhid, inti dari ajaran Islam. Kita telah menyatakan kesetiaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan dua kalimah syahadat:
أشهد ان لا اله الاٌ الله و أشهد انَّ محمّدًا رسولُ الله
“Aku bersaksi bahwa tidak ada “ilah” kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah  kecuali Dia (QS Ali Imran ayat 18). Tetapi sejarah menunjukkan bahwa banyak yang dijadikan ilah oleh ummat manusia sepanjang jaman, sebagaimana telah diabadikan dalam Al Qur’an.
Pada zaman Nabi Musa, Samiri membuat patung anak sapi yang dapat bersuara, lalu banyak orang pada waktu itu yang menyatakan patung itulah ilah mereka ( QS Thaha: 88). Demikian halnya pada jaman nabi-nabi Allah lainnya. Pada zaman Nabi Muhammad, Lata, Uzza, Manah, dan berhala-berhala lainnya dijadikan ilah oleh orang-orang Arab. Saat inipun, banyak benda-benda yang diberhalakan oleh ummat manusia.
Fir’aun mengatakan kepada pembesar-pembesar negaranya: “wahai pembesar-pembesar kaumku, aku tidak mengetahui kamu sekalian punya ilah selain diriku” (QS 28 Al Qashash: 38). Ia juga berkata: “sungguh jika kamu menjadikan  ilah selain diriku, aku akan menjadikan kamu menjadi penghuni penjara” (QS 26 As Syu’ara:29). Fir’aun menyatakan dirinya sebagai ilah. Semua titahnya harus ditaati, dan siapapun yang menolak dia singkirkan. Dalam kehidupan kita saat ini, banyak yang memperlakukan orang lain seperti Fir’aun dengan memberikan ketaatan tanpa syarat, meskipun sebagai konsekuensinya harus meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya. Misalnya seseorang yang bersedia membuka auratnya dengan berpakaian mini karena perintah atasan atau peraturan perusahaan. Atasan atau perusahaan telah menjadi ilah baginya. Kenapa demikian? Karena Allah memerintahkan menutup aurat, ia memilih mengikuti perintah membukanya. Allah telah dia sekutukan dengan atasannya.
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Dalam Al Qur’an dinyatakan juga bahwa nafsu bisa menjadi ilahnya manusia.
أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ ۥ هَوَٮٰهُ
Pernahkah kamu melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya?” (QS Al Jatsiyah: 23).
Nafsu adalah instrumen manusia dalam menjalankan fungsi kemanusiaannya. Ia bertugas melayani manusia. Nafsu makan diperlukan untuk menjaga kesehatan. Nafsu seksual diperlukan untuk melanjutkan keturunan. Demikian pula nafsu-nafsu lainnya, bertugas untuk melayani fungsi manusia. Bila manusia menjadi pelayan nafsunya: seperti nafsu seksualnya ia salurkan kepada yang bukan haknya, nafsu makannya dipenuhi dengan makanan haram, melakukan dorongan melanggar larangan Allah atau menjauhi perintah Allah; pada saat ini nafsunya telah menjadi ilahnya.
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!
Kita wajib bermuhasabah untuk mengevaluasi apakah kalimah لا اله الاٌ الله telah benar-benar merasuk dalam akal pikiran dan perbuatan kita! Bahkan kita wajib memperbaharui persaksian kita sekurang-kurang 9 kali setiap hari yakni dalam duduk tasyahud di setiap shalat-shalat kita.
Apakah masih ada benda-benda yang kita berhalakan sehingga menghalangi pelaksanaan perintah Allah atau menjerumuskan pada larangan Allah? Apakah masih ada manusia yang kita taati melebihi ketaatan kepada  Allah dan Rasul-Nya? Apakah masih memilih mengikuti keinginan nafsu dibandingkan tuntunan Allah dan Rasul-Nya?
Marilah dengan penuh keyakinan kita nyatakan “TIDAK!” Tidak ada apapun di alam semesta ini yang boleh menghalangi ketaatan kita kepada Allah!
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Ma’asyiral Muslimin wal muslimat rahimakumullah!
Kesediaan Nabi Ibrahim menyembelih puteranya Ismail dan kesabaran Ismail untuk disembelih adalah bukti kecintaan keduanya kepada Allah. Bagi Allah sikap tersebut sudah cukup dan prosesi penyembelihan Ismail tidak perlu dilakukan! Allah menebus Ismail dengan “dzibhin ‘adzim”, seekor hewan sembelihan besar. Ini juga sebagai isyarat, bahwa kita tidak boleh mengorbankan sesama manusia. Allah telah menganti dengan hewan untuk berkorban.
Nilai-nilai pengorbanan yang dilakukan oleh kedua nabiyullah tersebut, dilanjutkan sebagai syariat Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan melakukan penyembelihan hewan qurban pada tanggal 10 s.d 13 Dzulhijjah. Tentu juga sebagai salah satu ujian terhadap kecintaan kita kepada Allah SWT. Betulkah kita sudah mencintai Allah melebihi apapun juga? Kecintaan kepada Allah haruslah diikuti dengan kecintaan kepada Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya. Bahkan Rasulullah menyatakan: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sebelum aku lebih dicintai dari dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya, dan semua manusia”(HR Bukhari, Muslim, dan Nasa’i)
Bukti cinta kita kepada Allah adalah dengan mengikuti (ittiba’) nabi dan sebagai balasannya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kita (QS Ali Imran: 31) .
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!
Sebagai bukti cinta kepada Allah dan rasul-Nya, marilah kita jadikan Al Qur’an dan Al Hadits sebagai panduan hidup kita. Kita berusaha agar pikiran, ucapan, dan perbuatan kita merupakan amal shaleh. Kita tegakkan keyakinan tauhid yang murni, dan wujudkan akhlak mulia. Beribadah dengan tertib dan bermu’amalat secara Islami.  Kita ringankan langkah berjuang di jalan Allah, jangan ada keberatan sama sekali sebagaimana orang-orang yang memilih kehidupan dunia:
يآأيُّهاَالَّذِينَ آمَنُوا مَالَكُمْ إِذا قِيلَ لَكُم انْفِرُوا فِى سَبِيْل اللهِ اثاَقَلْتُم، أَرَضِيْتُم بالحيوةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ  فَماَ مَتَاعُ حيوَة الدُّنيآ فىِ الآخِرَةِ الاَّ قَلِيْلٌ (التوبة 38 )
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: ”Berangkatlah (untuk berjihad) pada jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) akhirat hanyalah sedikit”. (QS At Taubah 9: 38).
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Marilah segala hal yang kita hadapi, baik kemudahan atau kesulitan, kelapangan atau kesempitan, nikmat atau musibah, semuanya kita jadikan sebagai momentum untuk wujudkan pribadi kita menjadi Pribadi Muslim yang sebenar-benarnya. Selanjutnya, kita kembangkan pengaruhnya dalam keluarga kita, sehingga menjadi Keluarga Islam yang sebenar-benarnya. Dan dalam lingkungan kita masing-masing, sehingga menjadi masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Itulah bagian perjuangan atau jihad kita: “Mewujudkan amal Islami dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat”.
Akhirnya, marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa;
أللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحمَّد وعَلىَ آلِ محمَّد كماصلَّيْتَ عَلىَ إبْرَاهِيْم وآلِ إبْرَاهِيْم وبَارِكْ عَلىَ مُحمَّد و عَلىَ آلِ مُحَمَّد كَمَا بَارَكْتَ عَلىَ إبْرَاهِيْم وعَلىَ آل إبراهيم إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيْد.
اللّهُمَّ اغفِرْلِلمُسْلمينَ و المسلمات والمؤمنين والمؤمنات، الأحياءِ مِنْهُمْ والأمْوَاتِ، يا قاضِىَ الحَاجَاتِ، إنَّك عَلىَ كٌلِّ شَيءٍ قَدِير.
أللّهمَّ ألِّفْ بين قلوبِ المُسْلِميْنَ والمُسْلِمَاتِ والمُؤمِنِيْنَ والمُؤمِنَاتِ، أللّهٌمَّ أصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهٌمْ، أللّهُمَّ إنَّا نَسْاَلٌكَ الثَّبَاتَ فِى الأمْرِ والعَزيْمَةَ عَلىَ الرُّشْدِ بِرَحْمَتِكَ يآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن
رَبَّنَاآتِنَافِى الدُّنْيَاحَسَنَةً وفِىالآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَاعَذَابَ النَّار
و صَلَّى اللهُ عَلىَمُحَمَّدٍ وعَلىَ آلِهِ واصْحَابِهِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّايَصِفُوْن، وَسَلامٌ عَلىَالمُرْسَلِيْن والحَمْدُللهِ رَبِّ العَالَمِيْن
والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته


Khutbah Idul Adha 1431 H di Lapangan Denggung  Sleman'
 
BIODATA
NAMA                             : Dr. H. Agus Sukaca, M.Kes
Tempat & Tgl Lahir           : Kulon Progo, 2 Juni 1961
Jabatan                              : Ketua Majlis Tabligh PP Muhammadiyah
Nama Isteri                        : Dra. Hj. Noor Hurriyati
Anak                                  : 1. Nurias Difa’ul Husna; 2. Asa Muqarrib Hidayat; 3. Fatma Maulida Abiya
                                            4. Ahmad Galang Ma’rufa; 5. Afifah Rineksa Aliya
Riwayat Pendidikan:
1.       SD Negeri Butuh Kulon Progo, tamat tahun 1973
2.       Pondok Pabelan Magelang: tahun 1973 – 1976
3.       SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, tamat tahun 1981
4.       S1 Fakultas  Kedokteran UGM tamat tahun 1988
5.       S2 Fakultas Kedokteran UGM, tamat tahun 2000

Riwayat Organisasi dalam Muhammadiyah
1.       Wakil Ketua IPM Kelompok Bumirejo (Kulon Progo) 1977 – 1980
2.       Wakil Ketua Pimpinan Ranting IPM SMA Muhammadiyah I Yogyakarta  tahun 1979 – 1980
3.       Ketua I Pimpinan Daerah IPM Kotamadya Yogyakarta tahun 1980 – 1981
4.       Ketua Umum Pimpinan Daerah IPM Kotamadya Yogyakarta tahun 1981 – 1983
5.       Ketua Umum Pimpinan Wilayah IPM Daerah Istimewa Yogyakarta, tahun 1983 – 1986
6.       Ketua I Pimpinan Pusat IPM tahun 1986 – 1989
7.       Sekretaris Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah PDM Kotamadya Yogyakarta, tahun 1988 – 1991
8.       Ketua Badan Pendidikan Kader Pimpinan Wilayah Muhammadiyah  Kalimantan Timur tahun 1993 – 1995
9.       Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur; tahun 1995 – 1999
10.   Ketua PW Tapak Suci Kalimantan Timur tahun 2000 – 2005
11.   Ketua Majlis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani PWM Kaltim, tahun 2000 - 2005
12.   Ketua PW Muhammadiyah Kalimantan Timur, periode 2005 – 2010
Riwayat Organisasi di luar Muhammadiyah:
1.       Ketua DPW PAN Kalimantan Timur, tahun 1998 – 2000
2.       Ketua Fraksi Reformasi DPRD Propinsi Kalimantan Timur, 1999 – 2004
3.       Ketua Majlis Ulama Indonesia Propinsi Kalimantan Timur periode 2007 - 2012
Riwayat Pekerjaan:
1.       Dokter Jaga RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, 1991
2.       Direktur RS Ibu dan Anak ‘Aisyiyah Samarinda, 1992 – 1998
3.       Dokter Praktek Umum di Samarinda, 1993 - sekarang
4.       Direktur Akper Muhammadiyah Samarinda, 1995 – 2000
5.       Dosen Akper Muhammadiiyah Samarinda, 1995 -  sekarang
6.       Direktur RS Khusus Bedah Samarinda Siaga, 2000 – 2003
7.       Direktur RS Khusus Bedah, Bersalin, dan Anak “ Qurrata A’yun” Samarinda, 2004 - sekarang
[2] Ketua Majlis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Senin, 15 November 2010

Khutbah 'Iedul Adha :TAQARRUB ILALLAH DAN MENGAMBIL HIKMAH DARI BENCANA


IDUL QURBAN:

Oleh Drs. H.Syamsul Hidayat, MAg
(Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

الحمد لله الملك الوهاب الرحيم التواب ، خلق الناس كلهم من تراب ، وهيأهم لما يكلفون به بما أعطاهم من الألباب ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له بلا شك ولا ارتياب ، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله الذي أنزل عليه الكتاب ، تبصرة وذكرى لأولي الألباب صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم المآب وسلم تسليمًا .
أما بعد: أيها الناس اتقوا ربكم وتوبوا إليه فإن الله يحب التوابين واستغفروه من ذنوبكم فإنه خير الغافرين ، توبوا إلى ربكم مخلصين له بالإقلاع عن المعاصي والندم على فعلها والعزم على أن لا تعودوا إليها فهذه هي التوبة النصوح التي أمرتم بها: {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ}

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd,
Sidang Jamaah Idul Adha, rimakumullah,

Pertama, kita panjatkan puji dan syukur kita kepada Allah, Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya, Dzat yang Maha Pemaaf dan Penerima Taubat, yang telah melimpahkan nikmat yang paling agung kepada kita, yakni nikmat Iman dan Islam, serta nikmat berupa kesempatan dan peluang bagi kita untuk senantiasa bertaubat, menyesali dan memperbaiki amal perbuatan kita. Hembusan nafas yang masih menghiasi hidup kita adalah bukti nyata kalau Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk meneliti, merenung, menyesali perbuatan maksiat kita yang selanjutnya kita upayakan untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan penguatan iman dan taqwa kita kepada-Nya.
Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada uswah hasanah kita, Rasulullah Saw, beserta keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir jaman.


Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd,
Ma’syiral Muslimin, as’adakumullah,

Hari ini, 10 Dzuhijjah 1431 Hijriyah, kita merayakan Idul Adha, dalam situasi keprihatinan atas bencana Merapi yang melanda daerah kita dan sekitarnya. Banyak saudara, keluarga dan handai-taulan kita yang menjadi kurban, baik yang meninggal kembali ke rahmatullah, yang mengalami luka-luka berat dan ringan, kehilangan tempat tinggal maupun kehilangan mata pencaharian dan sebagainya.
Kepada mereka yang telah dipanggil Allah dari kalangan kaum Muslimin kita berharap dan berdoa, semoga mereka termasuk hamba-hamba Allah yang mendapatkan husnul khatimah. Sedangkan korban yang lainnya semoga dilimpahi ketabahan, kesabaran dan kemampuan untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari bencana dan musibah yang dialami.
Demikian juga kita yang diberi kesempatan untuk merayakan Idul Adha ini, marilah kita semuanya pandai-pandai menggali hikmah dan pelajaran (ibrah) dari bencana Allah turunkan kepada kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil Hamd
Sidang Idul Adha, rahimakumullah.

Bencana demi bencana yang Allah timpakan kepada hamba-Nya pasti punya maksud dan tujuan, pasti ada hikmah yang dapat diambil disebaliknya, khususnya bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, dan pandai-pandai menggunakan akal dan hati nurarinya. Hal ini ditegaskan oleh firman Alllah yang berbunyi:
                
(38).dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. (39). Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al-Dukhan (44) : 38-39)
Allah menciptakan langit, bumi dan seisinya tidak dengan main-main, melainkan memiliki maksud dan tujuan. Dan Allah tidak menciptakan semuanya itu, kecuali dengan al-haqq, akan tetapi kebanyakan manusiat tidak mengetahui, yakni tidak mau menggunakan akal dan hatinuraninya untuk memahami dan mengambil hikmah dan pelajaran atas segala ciptaan Allah.
Kalau kita telusuri ayat-ayat Al-Quran dan Sabda Rasulullah dalam sunnahnya, bencana dan musibah diterimakan kepada umat manusia setidaknya ada 3 jenis musibah. Yaitu musibah sebagai peringatan, musibah sebagai ujian dan musibah sebagai hukuman atau azab Allah.
Yang pertama, musibah sebagai peringatan diberikan kepada mereka yang beriman dan bertaqwa, tetapi melakukan banyak dosa dan maksiat. Musibah diturunkan sebagai peringatan agar mereka kembali memperkokoh iman dan taqwannya, bertobat dengan pertobatan yang murni (taubat nasuha). Musibah dam bencana yang ditimpakan juga mengingatkan bahwa semua itu terjadi karena ulah manusia, maka sudah semestinya orang-orang yang beriman mengambil pelajaran dengan menghentikan maksiat dan meningkatkan ketaatan kepada Allah.
Allah berfirman:
                  
11. tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Al-Taghabun: 11)
Dalam ayat ini ditegaskan, apabila musibah melanda, dan manusia tanggap bahwa semua itu peringatan dari Allah agar mereka memperkokoh keimanan, maka Allah akan memberinya petunjuk kepada hatinuraninya untuk dapat memperbaiki diri dan lingkungannya.
Memandang musibah atau bencana sebagai peringan digambarkan oleh Nabi sebagai berikut:

الَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ مُسْتَكْمِلِ الإِيمَانِ مَنْ لَمْ يَعُدَّ الْبَلاءَ نِعْمَةً، وَالرَّخاءَ مُصِيبَةً، قَالُوا: كَيْفَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: أَنَّ الْبَلاءَ لا يَتْبَعُهُ إِلا الرَّخَاءُ، وَكَذَلِكَ الرَّخَاءُ لا تَتْبَعُهُ إِلا الْمُصِيبَةُ (رواه الطبرانى)
Rasulullah saw. bersabda: “Tiada dianggap mukmin yang sempurna imannya orang yang tidak menganggap suatu bala’ sebagai sebuah kenikmatan, dan suatu kemudahan sebagai musibah. Para sahabat bertanya: Bagaimana itu ya Rasulullah? Rasul menjawab; “Karena tiak menyertai balak itu kecuali adanya kemudahan. Demikian juga dengan kemudian itu akan disertai dengan musibah.” ( HR al-Tabrani no 10787).


Ma’syiral Muslimin, as’adakumullah,
Kedua, musibah sebagai ujian ini juga ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Apakah dengan musibah yang dialami akan menggoyahkan imannya atau justru semakin kokoh iman dan taqwanya. Hampir sama dengan musibah sebagai peringatan sebenarnya musibah atau bencana itu ditimpakan kepada kita, adalah merupakan rahmah dan nikmat dari Allah kepada kita.
Orang yang beriman memiliki jiwa yang tangguh dan menakjubkan seperti digambarkan oleh Rasulullah dalam sabdanya;
عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ (رواه مسلم)
dari Shuhaib berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (HR. Muslim no 5316)
Orang-orang yang beriman menanggapi musibah secara positif tinking kepada Allah dengan selalu melakukan istirja’ kepada Allah.
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَصَابَتْ أَحَدَكُمْ مُصِيبَةٌ فَلْيَقُلْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ عِنْدَكَ أَحْتَسِبُ مُصِيبَتِي فَآجِرْنِي فِيهَا وَأَبْدِلْ لِي بِهَا خَيْرًا مِنْهَا (رواه أحمد أبو داود والترمذي)
Dari Ummu Salamah, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian tertimpa musibah maka hendaknya ia mengucapkan; INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI'UUN ALLAAHUMMA 'INDAKA AHTASIBU MUSHIIBATII FA-AAJIRNII FIIHAA WA ABDIL LII BIHAA KHAIRAN MINHAA (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepadaNya kami akan kembali. Ya Allah aku mengharapkan pahala pada musibahku dan berilah aku pahala padanya dan gantikanlah untukku yang lebih baik darinya!)
Bagi orang yang beriman, dengan sikap sabarnya itu justru setiap musibah yang datang akan menjadi jalan bagi terhapusnya dosa-dosanya karena taubat dan peningkatan taatnya kepada Allah dan usahanya untuk sejauh mungkin meninggalkan kemaksiatan. Di samping itu, juga dapat meningkatan derajatnya di hadapan Allah dan manusia.
قَالَتْ عَائِشَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُؤْمِنٍ تَشُوكُهُ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَرَفَعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةً (رواه أحمد)
Aisyah berkata; "Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang beriman yang terkena duri yang menancapnya. Sungguh, tidak ada setelahnya kecuali Allah akan menghapuskan kesalahannya dan dengannya ia akan mengangkat derajat."

Allahu Akbar wa lillahil hamd,
Adapun yang ketiga, musibah atau bencana sebagai hukuman, balasan atau azab. Ini diberikan kepada mereka tidak mau beriman, tidak mau mengambil hikmah dan pelajaran, yang kemudian diikuti oleh sikap kufur dan ingkar kepada Allah. Tertimpa bencana bukannya melakukan introspeksi, tetapi justru terus berbuat kerusakan, baik kerusakan aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalahnya. Maka orang demikian ini, tidak ada yang pantas baginya kecuali hukuman dan siksaan sebagai balasan atas perbuatannya.
Allah berfirman:
 •    •                                                                                            
96. Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
97. Maka Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
98. atau Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?
99. Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.
100. dan Apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?
101. negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, Maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.

Allahu Akbar wa lilahil hamd.
Wahai saudara-saudaraku Mukminin dan muslimin,
Kita berdoa dan berharap, bahwa bencana dan musibah ini bukan sebagai azab atau hukuman bagi kita. Semoga masih sudi menerima kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mukmin,muslim, muhsin dan muttaqin.
Kita jelas-jelas masih diberi kesempatan hidup, memiliki akal dan hati untuk berpikir, merenung dan introspeksi. Mungkin memang telah banyak dosa dan maksiat yang telah kita lakukan, baik kepada diri sendiri, keluarga, rekan-rekan dan handai taulan, serta dalam menjalan tugas dan peran kita di masyarakat, kita.
Momentum Idul Adha atau Idul Qurban ini, harus kita gunakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan mencermati dosa-dosa dan maksiat kita ketika sebaga suami, istri dan anak-anak dalam kehidupan keluarga. Kita cermati pula kemaksiatan dan dosa kita yang menjadi pedagang, pegawai, petani dan berbagai profesi lainnya. Mungkin kita telah melupakan tugas amar makruf nahi munkar atau justru kita telah asik dan tanpa sadar melakukan kemungkaran di mana-mana.
Introspeksi yang dilakukan di atas landasan iman dan taqwa kepada Allah, insyaallah akan menaikkan derajat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, yang selanjutnya akan mengundang barakah Allah yang akan dibukakan dari langit dan bumi.
Demikianlah khotbah yang dapat saya sampaikan, semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah, taufiq dan ma’unah kepada kita semuanya. Amien

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، اللهم وفقنا للمبادرة بالتوبة من الذنوب والرجوع إلى ما يرضيك عنا في السر والعلانية فإنك علام الغيوب، اللهم طهر قلوبنا من الشقاق والنفاق والسمعة والرياء، اللهم باعد عنّا وعن المسلمين الغش وشهادة الزور وارزقنا الصدق في المعاملات وجنبنا الحرام وفعل الآثام ما ظهر منها وما بطن، اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الـْمُسْلِميْنَ في كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْـمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ربِّ الْعَالَمِيْنَ

Khutbah Idul Adha 1431 H :
Perguruan Muhammadiyah Borobudur 16 Nopember 2010

Sabtu, 13 November 2010

Khittah Perjuangan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Khittah Perjuangan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Muhammadiyah adalah Gerakan Islam yang melaksanakan da'wah amar ma'ruf nahi munkar dengan maksud dan tujuan menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah berpandangan bahwa Agama Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan meliputi aqidah, ibadah, akhlaq, dan mu'amalat dunyawiyah yang merupakan satu kesatuan yang utuh dan harus dilaksanakan dalam kehidupan perseorangan maupun kolektif. Dengan mengemban misi gerakan tersebut Muhammadiyah dapat mewujudkan atau mengaktualisasikan Agama Islam menjadi rahmatan lil-'alamin dalam kehidupan di muka bumi ini.

Muhammadiyah berpandangan bahwa berkiprah dalam kehidupan bangsa dan negara merupakan salah satu perwujudan dari misi dan fungsi melaksanakan da'wah amar ma'ruf nahi munkar sebagaimana telah menjadi panggilan sejarahnya sejak zaman pergerakan hingga masa awal dan setelah kemerdekaan Indonesia. Peran dalam kehidupan bangsa dan negara tersebut diwujudkan dalam langkah-langkah strategis dan taktis sesuai kepribadian, keyakinan dan cita-cita hidup, serta khittah perjuangannya sebagai acuan gerakan sebagai wujud komitmen dan tanggungjawab dalam mewujudkan "Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur".

Bahwa peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dapat dilakukan melalui dua strategi dan lapangan perjuangan. Pertama, melalui kegiatan-kegiatan politik yang berorientasi pada perjuangan kekuasaan/kenegaraan (real politics, politik praktis) sebagaimana dilakukan oleh partai-partai politik atau kekuatan-kekuatan politik formal di tingkat kelembagaan negara. Kedua, melalui kegiatan-kegiatan kemasyarakatan yang bersifat pembinaan atau pemberdayaan masyarakat maupun kegiatan-kegiatan politik tidak langsung (high politics) yang bersifat mempengaruhi kebijakan negara dengan perjuangan moral (moral force) untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik di tingkat masyarakat dan negara sebagaimana dilakukan oleh kelompok-kelompok kepentingan (interest groups).

Muhammadiyah secara khusus mengambil peran dalam lapangan kemasyarakatan dengan pandangan bahwa aspek kemasyarakatan yang mengarah kepada pemberdayaan masyarakat tidak kalah penting dan strategis daripada aspek perjuangan politik kekuasaan. Perjuangan di lapangan kemasyarakatan diarahkan untuk terbentuknya masyarakat utama atau masyarakat madani (civil society) sebagai pilar utama terbentuknya negara yang berkedaulatan rakyat. Peran kemasyarakatan tersebut dilakukan oleh organisasi-organisasi kemasyarakatan seperti halnya Muhammadiyah. Sedangkan perjuangan untuk meraih kekuasaaan (power struggle) ditujukan untuk membentuk pemerintahan dalam mewujudkan tujuan negara, yang peranannya secara formal dan langsung dilakukan oleh partai politik dan institusi-institusi politik negara melalui sistem politik yang berlaku. Kedua peranan tersebut dapat dijalankan secara objektif dan saling terkait melalui bekerjanya sistem politik yang sehat oleh seluruh kekuatan nasional menuju terwujudnya tujuan negara.

Muhammadiyah sebagai organisasi sosial-keagamaan (organisasi kemasyarakatan) yang mengemban misi da'wah amar ma'ruf nahi munkar senantiasa bersikap aktif dan konstruktif dalam usaha-usaha pembangunan dan reformasi nasional sesuai dengan khittah (garis) perjuangannya serta tidak akan tinggal diam dalam menghadapi kondisi-kondisi kritis yang dialami oleh bangsa dan negara. Karena itu, Muhammadiyah senantiasa terpanggil untuk berkiprah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan berdasarkan pada khittah perjuangan sebagai berikut:

Muhammadiyah meyakini bahwa politik dalam kehidupan bangsa dan negara merupakan salah satu aspek dari ajaran Islam dalam urusan keduniawian (al-umur ad-dunyawiyat) yang harus selalu dimotivasi, dijiwai, dan dibingkai oleh nilai-nilai luhur agama dan moral yang utama. Karena itu diperlukan sikap dan moral yang positif dari seluruh warga Muhammadiyah dalam menjalani kehidupan politik untuk tegaknya kehidupan berbangsa dan bernegara.

Muhammadiyah meyakini bahwa negara dan usaha-usaha membangun kehidupan berbangsa dan bernegara, baik melalui perjuangan politik maupun melalui pengembangan masyarakat, pada dasarnya merupakan wahana yang mutlak diperlukan untuk membangun kehidupan di mana nilai-nilai Ilahiah melandasi dan tumbuh subur bersamaan dengan tegaknya nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, perdamaian, ketertiban, kebersamaan, dan keadaban untuk terwujudnya "Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur".

Muhammadiyah memilih perjuangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara melalui usaha-usaha pembinaan atau pemberdayaan masyarakat guna terwujudnya masyarakat madani (civil society) yang kuat sebagaimana tujuan Muhammadiyah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sedangkan hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan-kebijakan kenegaraan sebagai proses dan hasil dari fungsi politik pemerintahan akan ditempuh melalui pendekatan-pendekatan secara tepat dan bijaksana sesuai prinsip-prinsip perjuangan kelompok kepentingan yang efektif dalam kehidupan negara yang demokratis.

Muhammadiyah mendorong secara kritis atas perjuangan politik yang bersifat praktis atau berorientasi pada kekuasaan (real politics) untuk dijalankan oleh partai-partai politik dan lembaga-lembaga formal kenegaraan dengan sebaik-baiknya menuju terciptanya sistem politik yang demokratis dan berkeadaban sesuai dengan cita-cita luhur bangsa dan negara. Dalam hal ini perjuangan politik yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan politik hendaknya benar-benar mengedepankan kepentingan rakyat dan tegaknya nilai-nilai utama sebagaimana yang menjadi semangat dasar dan tujuan didirikannya negara Republik Indonesia yang diproklamasikan tahun 1945.

Muhammadiyah senantiasa memainkan peranan politiknya sebagai wujud dari dakwah amar ma'ruf nahi munkar dengan jalan mempengaruhi proses dan kebijakan negara agar tetap berjalan sesuai dengan konstitusi dan cita-cita luhur bangsa. Muhammadiyah secara aktif menjadi kekuatan perekat bangsa dan berfungsi sebagai wahana pendidikan politik yang sehat menuju kehidupan nasional yang damai dan berkeadaban.

Muhammadiyah tidak berafiliasi dan tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan kekuatan-kekuatan politik atau organisasi manapun. Muhammadiyah senantiasa mengembangkan sikap positif dalam memandang perjuangan politik dan menjalankan fungsi kritik sesuai dengan prinsip amar ma'ruf nahi munkar demi tegaknya sistem politik kenegaraan yang demokratis dan berkeadaban.

Muhammadiyah memberikan kebebasan kepada setiap anggota Persyarikatan untuk menggunakan hak pilihnya dalam kehidupan politik sesuai hati nurani masing-masing. Penggunaan hak pilih tersebut harus merupakan tanggungjawab sebagai warga negara yang dilaksanakan secara rasional dan kritis, sejalan dengan misi dan kepentingan Muhammadiyah, demi kemaslahatan bangsa dan negara.

Muhammadiyah meminta kepada segenap anggotanya yang aktif dalam politik untuk benar-benar melaksanakan tugas dan kegiatan politik secara sungguh-sungguh dengan mengedepankan tanggung jawab (amanah), akhlak mulia (akhlaq al-karimah), keteladanan (uswah hasanah), dan perdamaian (ishlah). Aktifitas politik tersebut harus sejalan dengan upaya memperjuangkan misi Persyarikatan dalam melaksanakan da'wah amar ma'ruf nahi munkar.

Muhammadiyah senantiasa bekerjasama dengan pihak atau golongan mana pun berdasarkan prinsip kebajikan dan kemaslahatan, menjauhi kemudharatan, dan bertujuan untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara ke arah yang lebih baik, maju, demokratis dan berkeadaban.

Khittah Perjuangan Muhammadiyah

HAKIKAT MUHAMMADIYAH

Perkembangan masyarakat Indonesia, baik yang disebabkan oleh daya dinamik dari dalam ataupun karena persentuhan dengan kebudayaan dari luar, telah menyebabkan perubahan tertentu. Perubahan itu menyangkut seluruh segi kehidupan masyarakat, diantaranya bidang sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan, yang menyangkut perubahan strukturil dan perubahan pada sikap serta tingkah laku dalam hubungan antar manusia.

Muhammadiyah sebagai gerakan, dalam mengikuti perkembangan dan perubahan itu, senantiasa mempunyai kepentingan untuk melaksanakan amar ma'ruf nahi-mungkar, serta menyelenggarakan gerakan dan amal usaha yang sesuai dengan lapangan yang dipilihnya ialah masyarakat, sebagai usaha Muhammadiyah untuk mencapai tujuannya: "menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah SWT.

Dalam melaksanakan usaha tersebut, Muhammadiyah berjalan diatas prinsip gerakannya, seperti yang dimaksud di dalam Matan Keyakinan Cita-cita Hidup Muhammadiyah.

Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah itu senantiasa menjadi landasan gerakan Muhammadiyah, juga bagi gerakan dan amal usaha dan hubungannya dengan kehidupan masyarakat dan ketatanegaraan, serta dalam bekerjasama dengan golongan Islam lainnya.


MUHAMMADIYAH DAN MASYARAKAT
Sesuai dengan khittahnya, Muhammadiyah sebagai Persyarikatan memilih dan menempatkan diri sebagai Gerakan Islam amar-ma'ruf nahi mungkar dalam masyarakat, dengan maksud yang terutama ialah membentuk keluarga dan masyarakat sejahtera sesuai dengan Dakwah Jamaah.

Di samping itu Muhammadiyah menyelenggarakan amal-usaha seperti tersebut pada Anggaran Dasar Pasal 4, dan senantiasa berikhtiar untuk meningkatkan mutunya

Penyelenggaraan amal-usaha, tersebut merupakan sebagian ikhtiar Muhammadiyah untuk mencapai Keyakinan dan Cita-Cita Hidup yang bersumberkan ajaran Islam dan bagi usaha untuk terwujudnya masyarakat utama, adil dan makmur yang diridlai Allah SWT.



MUHAMMADIYAH DAN POLITIK
Dalam bidang politik Muhammadiyah berusaha sesuai dengan khittahnya: dengan dakwah amar ma ma'ruf nahi mungkar dalam arti dan proporsi yang sebenar-benarnya, Muhammadiyah harus dapat membuktikan secara teoritis konsepsionil, secara operasionil dan secara kongkrit riil, bahwa ajaran Islam mampu mengatur masyarakat dalam Negara Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 menjadi masyarakat yang adil dan makmur serta sejahtera, bahagia, materiil dan spirituil yang diridlai Allah SWT. Dalam melaksanakan usaha itu, Muhammadiyah tetap berpegang teguh pada kepribadiannya

Usaha Muhammadiyah dalam bidang politik tersebut merupakan bagian gerakannya dalam masyarakat, dan dilaksanakan berdasarkan landasan dan peraturan yang berlaku dalam Muhammadiyah.

Dalam hubungan ini Muktamar Muhammadiyah ke-38 telah menegaskan bahwa:

Muhammadiyah adalah Gerakan Dakwah Islam yang beramal dalam segala bidang kehidupan manusia dan masyarakat, tidak mempunyai hubungan organisatoris dengan dan tidak merupakan afiliasi dari sesuatu Partai Politik atau Organisasi apapun

Setiap anggota Muhammadiyah sesuai dengan hak asasinya dapat tidak memasuki atau memasuki organisasi lain, sepanjang tidak menyimpang dari Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam Persyarikatan Muhammadiyah.


MUHAMMADIYAH DAN UKHUWAH ISLAMIYAH
Sesuai dengan kepribadiannya, Muhammadiyah akan bekerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan Agama Islam serta membela kepentingannya.

Dalam melakukan kerjasama tersebut, Muhammadiyah tidak bermaksud menggabungkan dan mensubordinasikan organisasinya dengan organisasi atau institusi lainnya.



DASAR PROGRAM MUHAMMADIYAH
Berdasarkan landasan serta pendirian tersebut di atas dan dengan memperhatikan kemampuan dan potensi Muhammadiyah dan bagiannya, perlu ditetapkan langkah kebijaksanaan sebagai berikut:

Memulihkan kembali Muhammadiyah sebagai Persyarikatan yang menghimpun sebagian anggota masyarakat, terdiri dari muslimin dan muslimat yang beriman teguh, ta'at beribaclah, berakhlaq mulia, dan menjadi teladan yang baik di tengah-tengah masyarakat.

Meningkatkan pengertian dan kematangan anggota Muhammadiyah tentang hak dan kewajibannya sebagai warga negara, dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan meningkatkan kepekaan sosialnya terhadap persoalan-persoalan dan kesulitan hidup masyarakat

Menepatkan kedudukan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai gerakan untuk melaksanakan dakwah amar-ma'ruf nahi-mungkar ke segenap penjuru dan lapisan masyarakat serta di segala bidang kehidupan di Negara Republik Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang- Undang Dasar 1945.