Laman

Selasa, 23 November 2010

Menemukan Momentum Mewujudkan Muslim Yang Sebenar-benarnya


Khutbah Idul Adha
Oleh: dr. H. Agus Sukaca, M.Kes
ألَسلامُ عليكم ورحمةُ الله وبركاتُهُ
الَحمدُ ِلله. نحمده ونَسْتَعِينُهُ و َنسْتَغْفِرُهُ  وَنتُوبُ اليه , ونعوذ بِهِ من شرور أنفسنا. من يهدِ اللهُ فلا مضلَ لَهُ، و من يضلل فلا هادى له، ونشهد ان لا اله الاٌ الله و انَّ محمّدًا عبده ورسولُه، أرسله بالحقِّ بشيرًا ونذ يرًا بين يدى الساعة، من يطعِ اللهَ و رسولَهُ فقد رشدَ ومن يَعْصِمُهَا فقد غَوَى، نَسْأَلُ الله ربنا أنْ يَجْعَلَنَا مِمَّنْ يُطِيْعُهُ و يُطِيْعُ رَسُوْلَهُ، و يَتَّبعُ ِرضوانَهُ و يَجْتَنِبُ سَخَطَهُ فَإنَّمَا نحن بهِ و لهُ.
الله أكبر, الله أكبر, لا إله إلا الله الله اكبر, الله اكبر ولله الحمد.
أمٌا بعد, فيا عبادالله أوصيكم ونفسى بتقوى الله فقد فاز المتٌقون، فاتقواالله حقٌ تقاته ولاتموتنٌ إلا و أنتم مسلمون
الله أكبر, الله أكبر, لا إله إلا الله ، الله اكبر, الله اكبر ولله الحمد.

Kaum muslimin dan muslimat rahimakumullah!
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahuwata’ala, dzat yang kita mengabdi hanya kepada-Nya. Dzat yang telah memberikan petunjuk kepada ummat manusia dengan risalah yang diturunkan melalui rasul-Nya Muhammad SAW.
Sungguh siapa saja yang mengikuti petunjuk-Nya, mereka sedang menempuh jalan yang lurus menuju syurga jannatun na’iem.
Shalawat dan salam semoga tercurah atas nabi kita Muhammad SAW beserta segenap keluarga, sahabat dan pengikutnya yang setia.
الله أكبر, الله أكبر, ولله الحمد.
Selayaknyalah kita bersyukur kepada Allah, hari ini tanggal 10 Dzulhijjah 1431 H dapat melaksanakan shalat ‘Iedul Adha di lapangan ini, meskipun dalam suasana keprihatinan. Insya Allah tetap dengan penuh keimanan dan pengharapan akan ridha Allah SWT.
Kita dalam suasana prihatin oleh karena Allah sedang menguji kita dan saudara-saudara kita yang tinggal di sekitar gunung Merapi dengan letusan gunung dengan segala akibatnya. Banyak yang terpaksa harus mengungsi meninggalkan tempat tinggalnya dengan segala macam kesulitan yang dihadapi. Bahkan ada yang sampai terluka dan meninggal dunia. Tentu, kesemuanya itu wajib kita hadapi dengan penuh kesabaran.
Semua peristiwa yang dihadapi oleh seorang mukmin akan memberikan dampak positif baginya. Allah menguji keimanan seseorang dengan 2 hal.
Pertama dengan kemudahan, kelapangan. Seorang yang beriman menghadapinya dengan penuh kesyukuran. Segala anugerah Allah yang diberikan kepadanya ia manfaatkan sepenuhnya untuk hal-hal yang bermanfaat dan diijinkan Allah. Misalnya, mendapatkan kemudahan tidak terkena bencana merapi sehingga tidak harus mengungsi, ia syukuri dengan menyumbangkan sebagian rizkinya untuk korban Merapi, menjadi relawan, dan sebagainya.
Kedua, dengan kesulitan dan musibah. Sesulit apapun urusan yang ia hadapi, ia tetap bersabar. Ia berprasangka baik kepada Allah dan menganggap kesulitan dan musibah yang ia alami adalah bagian dari skenario Allah untuk menguatkan imannya.
Seorang mukmin berusaha menghadapi kedua model ujian tersebut dengan sebaik-baiknya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW :
“menakjubkan sekali urusan orang-orang mukmin: segala urusannya semuanya baik baginya, dan tidak ada yang seperti itu kecuali orang mukmin; apabila diberikan kemudahan (kesempatan, rizki, nikmat) ia bersyukur, dan akibatnya baik baginya; dan apabila diberikan kesulitan (kesempitan, musibah) ia bersabar, dan akibatnya baik baginya”
الله أكبر, الله أكبر, ولله الحمد.
Sikap seorang mukmin adalah senantiasa ridha dengan keputusan Allah. Apapun keputusan-Nya, ia rasa sebagai yang terbaik baginya. Ia tak mau berkeluh kesah, karena ia tahu keluh kesah adalah kebiasaan pecundang. Ia bersyukur dan bersabar atas semua ketetapan Allah. Nilai-nilai kepasrahan itulah antara lain yang terkandung dalam ajaran Qurban.
Qurban adalah ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah SAW,  mengambil pelajaran yang diberikan oleh Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau berqurban setelah mendapatkan wahyu Allah yang disampaikan lewat mimpi untuk menyembelih puteranya Isma’il, sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur’an:
فلمَّابَلَغَ مَعَهُ السّعْىَ قاَلَ يآ بُنَىَّ إنِّى أَرَى فِى المَنَاِم أَنّىِ أذْبَحُكَ فَانْضُرْ ماذاَ ترى, قال يآأبت افعل ما تؤمر ستجدنى إنشاءألله من الصابرين (الصفّات 102)
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: ”Wahai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (As Shaffat 102).
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Coba banyangkan, perintah itu ditujukan kepada kita! Betapa hancurnya hati bila harus mengorbankan anak yang sangat kita cintai, yang diharapkan dapat meneruskan perjuangan kita. Tidak demikian halnya dengan Nabiyullah Ibrahim. Tatkala menyadari ada perintah Allah lewat mimpi untuk menyembelih Isma’il, serta merta beliau kabarkan kepada Isma’il tanpa ragu. Ibrahim adalah seorang Nabi yang Hanif, yang seluruh hidupnya didedikasikan sepenuhnya untuk Allah. Apapun perintah Allah dilaksanakannya dengan sepenuh hati!.
Demikian halnya Isma’il. Ia menjadi anak shaleh yang sangat cintanya kepada Allah dan tinggi baktinya kepada orang tuanya. Ketika diberitahu tentang perintah Allah untuk menyembelihnya, dengan penuh keyakinan ia mempersilahkan ayahnya untuk mengeksekusinya.
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Sikap keduanya merupakan puncak keimanan! Dihadapkan dengan perintah Allah, tidak ada hal apapun yang dapat menghalangi mereka melaksanakannya. Tidak anak, tidak pula ketakutan kehilangan nyawa. Semua direlakan!
Anak merupakan ujian nyata bagi manusia. Mereka rela berbuat apa saja demi anak kekasih hatinya. Bahkan banyak yang sampai melanggar larangan Allah dan mengabaikan perintah-Nya. Demikian halnya dengan nyawa, banyak orang mengabaikan perintah Allah  dan melanggar larangan-Nya ketika harus mempertaruhkan nyawa.
Sikap Nabiyullah Ibrahim dan puteranya Isma’il menjadi suri teladan bagi manusia beriman, karena kecintaan mereka kepada Allah di atas segala-galanya. Seharusnyalah kita juga bersikap demikian. Firman Allah dalam surah At Taubah ayat 24  :
قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُڪُمۡ وَإِخۡوَٲنُكُمۡ وَأَزۡوَٲجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٲلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ۬ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡڪُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ۬ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُواْ حَتَّىٰ يَأۡتِىَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦ‌ۗ وَٱللَّهُ لَا يَہۡدِى ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡفَـٰسِقِينَ (٢٤)
Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya,  rumah-rumah tempat tinggal yang   kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.
Bila kita ingin mendapatkan kecintaan Allah dan menghindari murka-Nya, haruslah menempatkan kecintaan kita kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya di atas segala-galanya. Kita harus mengalahkan segala macam kepentingan lainnya yang berhubungan dengan orang tua, anak, saudara, isteri, keluarga, harta, dan tempat tinggal.
Itulah sesungguhnya hakekat ajaran tauhid, inti dari ajaran Islam. Kita telah menyatakan kesetiaan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan dua kalimah syahadat:
أشهد ان لا اله الاٌ الله و أشهد انَّ محمّدًا رسولُ الله
“Aku bersaksi bahwa tidak ada “ilah” kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah  kecuali Dia (QS Ali Imran ayat 18). Tetapi sejarah menunjukkan bahwa banyak yang dijadikan ilah oleh ummat manusia sepanjang jaman, sebagaimana telah diabadikan dalam Al Qur’an.
Pada zaman Nabi Musa, Samiri membuat patung anak sapi yang dapat bersuara, lalu banyak orang pada waktu itu yang menyatakan patung itulah ilah mereka ( QS Thaha: 88). Demikian halnya pada jaman nabi-nabi Allah lainnya. Pada zaman Nabi Muhammad, Lata, Uzza, Manah, dan berhala-berhala lainnya dijadikan ilah oleh orang-orang Arab. Saat inipun, banyak benda-benda yang diberhalakan oleh ummat manusia.
Fir’aun mengatakan kepada pembesar-pembesar negaranya: “wahai pembesar-pembesar kaumku, aku tidak mengetahui kamu sekalian punya ilah selain diriku” (QS 28 Al Qashash: 38). Ia juga berkata: “sungguh jika kamu menjadikan  ilah selain diriku, aku akan menjadikan kamu menjadi penghuni penjara” (QS 26 As Syu’ara:29). Fir’aun menyatakan dirinya sebagai ilah. Semua titahnya harus ditaati, dan siapapun yang menolak dia singkirkan. Dalam kehidupan kita saat ini, banyak yang memperlakukan orang lain seperti Fir’aun dengan memberikan ketaatan tanpa syarat, meskipun sebagai konsekuensinya harus meninggalkan perintah Allah dan melanggar larangan-Nya. Misalnya seseorang yang bersedia membuka auratnya dengan berpakaian mini karena perintah atasan atau peraturan perusahaan. Atasan atau perusahaan telah menjadi ilah baginya. Kenapa demikian? Karena Allah memerintahkan menutup aurat, ia memilih mengikuti perintah membukanya. Allah telah dia sekutukan dengan atasannya.
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Dalam Al Qur’an dinyatakan juga bahwa nafsu bisa menjadi ilahnya manusia.
أَفَرَءَيۡتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ ۥ هَوَٮٰهُ
Pernahkah kamu melihat orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah-nya?” (QS Al Jatsiyah: 23).
Nafsu adalah instrumen manusia dalam menjalankan fungsi kemanusiaannya. Ia bertugas melayani manusia. Nafsu makan diperlukan untuk menjaga kesehatan. Nafsu seksual diperlukan untuk melanjutkan keturunan. Demikian pula nafsu-nafsu lainnya, bertugas untuk melayani fungsi manusia. Bila manusia menjadi pelayan nafsunya: seperti nafsu seksualnya ia salurkan kepada yang bukan haknya, nafsu makannya dipenuhi dengan makanan haram, melakukan dorongan melanggar larangan Allah atau menjauhi perintah Allah; pada saat ini nafsunya telah menjadi ilahnya.
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!
Kita wajib bermuhasabah untuk mengevaluasi apakah kalimah لا اله الاٌ الله telah benar-benar merasuk dalam akal pikiran dan perbuatan kita! Bahkan kita wajib memperbaharui persaksian kita sekurang-kurang 9 kali setiap hari yakni dalam duduk tasyahud di setiap shalat-shalat kita.
Apakah masih ada benda-benda yang kita berhalakan sehingga menghalangi pelaksanaan perintah Allah atau menjerumuskan pada larangan Allah? Apakah masih ada manusia yang kita taati melebihi ketaatan kepada  Allah dan Rasul-Nya? Apakah masih memilih mengikuti keinginan nafsu dibandingkan tuntunan Allah dan Rasul-Nya?
Marilah dengan penuh keyakinan kita nyatakan “TIDAK!” Tidak ada apapun di alam semesta ini yang boleh menghalangi ketaatan kita kepada Allah!
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Ma’asyiral Muslimin wal muslimat rahimakumullah!
Kesediaan Nabi Ibrahim menyembelih puteranya Ismail dan kesabaran Ismail untuk disembelih adalah bukti kecintaan keduanya kepada Allah. Bagi Allah sikap tersebut sudah cukup dan prosesi penyembelihan Ismail tidak perlu dilakukan! Allah menebus Ismail dengan “dzibhin ‘adzim”, seekor hewan sembelihan besar. Ini juga sebagai isyarat, bahwa kita tidak boleh mengorbankan sesama manusia. Allah telah menganti dengan hewan untuk berkorban.
Nilai-nilai pengorbanan yang dilakukan oleh kedua nabiyullah tersebut, dilanjutkan sebagai syariat Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dengan melakukan penyembelihan hewan qurban pada tanggal 10 s.d 13 Dzulhijjah. Tentu juga sebagai salah satu ujian terhadap kecintaan kita kepada Allah SWT. Betulkah kita sudah mencintai Allah melebihi apapun juga? Kecintaan kepada Allah haruslah diikuti dengan kecintaan kepada Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya. Bahkan Rasulullah menyatakan: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sebelum aku lebih dicintai dari dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya, dan semua manusia”(HR Bukhari, Muslim, dan Nasa’i)
Bukti cinta kita kepada Allah adalah dengan mengikuti (ittiba’) nabi dan sebagai balasannya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kita (QS Ali Imran: 31) .
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia!
Sebagai bukti cinta kepada Allah dan rasul-Nya, marilah kita jadikan Al Qur’an dan Al Hadits sebagai panduan hidup kita. Kita berusaha agar pikiran, ucapan, dan perbuatan kita merupakan amal shaleh. Kita tegakkan keyakinan tauhid yang murni, dan wujudkan akhlak mulia. Beribadah dengan tertib dan bermu’amalat secara Islami.  Kita ringankan langkah berjuang di jalan Allah, jangan ada keberatan sama sekali sebagaimana orang-orang yang memilih kehidupan dunia:
يآأيُّهاَالَّذِينَ آمَنُوا مَالَكُمْ إِذا قِيلَ لَكُم انْفِرُوا فِى سَبِيْل اللهِ اثاَقَلْتُم، أَرَضِيْتُم بالحيوةِ الدُّنْيَا مِنَ الآخِرَةِ  فَماَ مَتَاعُ حيوَة الدُّنيآ فىِ الآخِرَةِ الاَّ قَلِيْلٌ (التوبة 38 )
Hai orang-orang yang beriman, apakah sebabnya apabila dikatakan kepada kamu: ”Berangkatlah (untuk berjihad) pada jalan Allah”, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) akhirat hanyalah sedikit”. (QS At Taubah 9: 38).
ألله أكبر ألله أكبر ولله الحمد
Marilah segala hal yang kita hadapi, baik kemudahan atau kesulitan, kelapangan atau kesempitan, nikmat atau musibah, semuanya kita jadikan sebagai momentum untuk wujudkan pribadi kita menjadi Pribadi Muslim yang sebenar-benarnya. Selanjutnya, kita kembangkan pengaruhnya dalam keluarga kita, sehingga menjadi Keluarga Islam yang sebenar-benarnya. Dan dalam lingkungan kita masing-masing, sehingga menjadi masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Itulah bagian perjuangan atau jihad kita: “Mewujudkan amal Islami dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat”.
Akhirnya, marilah kita tutup khutbah ini dengan berdoa;
أللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحمَّد وعَلىَ آلِ محمَّد كماصلَّيْتَ عَلىَ إبْرَاهِيْم وآلِ إبْرَاهِيْم وبَارِكْ عَلىَ مُحمَّد و عَلىَ آلِ مُحَمَّد كَمَا بَارَكْتَ عَلىَ إبْرَاهِيْم وعَلىَ آل إبراهيم إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيْد.
اللّهُمَّ اغفِرْلِلمُسْلمينَ و المسلمات والمؤمنين والمؤمنات، الأحياءِ مِنْهُمْ والأمْوَاتِ، يا قاضِىَ الحَاجَاتِ، إنَّك عَلىَ كٌلِّ شَيءٍ قَدِير.
أللّهمَّ ألِّفْ بين قلوبِ المُسْلِميْنَ والمُسْلِمَاتِ والمُؤمِنِيْنَ والمُؤمِنَاتِ، أللّهٌمَّ أصْلِحْ ذَاتَ بَيْنَهٌمْ، أللّهُمَّ إنَّا نَسْاَلٌكَ الثَّبَاتَ فِى الأمْرِ والعَزيْمَةَ عَلىَ الرُّشْدِ بِرَحْمَتِكَ يآ اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن
رَبَّنَاآتِنَافِى الدُّنْيَاحَسَنَةً وفِىالآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَاعَذَابَ النَّار
و صَلَّى اللهُ عَلىَمُحَمَّدٍ وعَلىَ آلِهِ واصْحَابِهِ، سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّايَصِفُوْن، وَسَلامٌ عَلىَالمُرْسَلِيْن والحَمْدُللهِ رَبِّ العَالَمِيْن
والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته


Khutbah Idul Adha 1431 H di Lapangan Denggung  Sleman'
 
BIODATA
NAMA                             : Dr. H. Agus Sukaca, M.Kes
Tempat & Tgl Lahir           : Kulon Progo, 2 Juni 1961
Jabatan                              : Ketua Majlis Tabligh PP Muhammadiyah
Nama Isteri                        : Dra. Hj. Noor Hurriyati
Anak                                  : 1. Nurias Difa’ul Husna; 2. Asa Muqarrib Hidayat; 3. Fatma Maulida Abiya
                                            4. Ahmad Galang Ma’rufa; 5. Afifah Rineksa Aliya
Riwayat Pendidikan:
1.       SD Negeri Butuh Kulon Progo, tamat tahun 1973
2.       Pondok Pabelan Magelang: tahun 1973 – 1976
3.       SMA Muhammadiyah I Yogyakarta, tamat tahun 1981
4.       S1 Fakultas  Kedokteran UGM tamat tahun 1988
5.       S2 Fakultas Kedokteran UGM, tamat tahun 2000

Riwayat Organisasi dalam Muhammadiyah
1.       Wakil Ketua IPM Kelompok Bumirejo (Kulon Progo) 1977 – 1980
2.       Wakil Ketua Pimpinan Ranting IPM SMA Muhammadiyah I Yogyakarta  tahun 1979 – 1980
3.       Ketua I Pimpinan Daerah IPM Kotamadya Yogyakarta tahun 1980 – 1981
4.       Ketua Umum Pimpinan Daerah IPM Kotamadya Yogyakarta tahun 1981 – 1983
5.       Ketua Umum Pimpinan Wilayah IPM Daerah Istimewa Yogyakarta, tahun 1983 – 1986
6.       Ketua I Pimpinan Pusat IPM tahun 1986 – 1989
7.       Sekretaris Majlis Pendidikan Dasar dan Menengah PDM Kotamadya Yogyakarta, tahun 1988 – 1991
8.       Ketua Badan Pendidikan Kader Pimpinan Wilayah Muhammadiyah  Kalimantan Timur tahun 1993 – 1995
9.       Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Timur; tahun 1995 – 1999
10.   Ketua PW Tapak Suci Kalimantan Timur tahun 2000 – 2005
11.   Ketua Majlis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani PWM Kaltim, tahun 2000 - 2005
12.   Ketua PW Muhammadiyah Kalimantan Timur, periode 2005 – 2010
Riwayat Organisasi di luar Muhammadiyah:
1.       Ketua DPW PAN Kalimantan Timur, tahun 1998 – 2000
2.       Ketua Fraksi Reformasi DPRD Propinsi Kalimantan Timur, 1999 – 2004
3.       Ketua Majlis Ulama Indonesia Propinsi Kalimantan Timur periode 2007 - 2012
Riwayat Pekerjaan:
1.       Dokter Jaga RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta, 1991
2.       Direktur RS Ibu dan Anak ‘Aisyiyah Samarinda, 1992 – 1998
3.       Dokter Praktek Umum di Samarinda, 1993 - sekarang
4.       Direktur Akper Muhammadiyah Samarinda, 1995 – 2000
5.       Dosen Akper Muhammadiiyah Samarinda, 1995 -  sekarang
6.       Direktur RS Khusus Bedah Samarinda Siaga, 2000 – 2003
7.       Direktur RS Khusus Bedah, Bersalin, dan Anak “ Qurrata A’yun” Samarinda, 2004 - sekarang
[2] Ketua Majlis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar