Laman

Selasa, 23 November 2010

Melintasi Zaman Dengan Kesucian Jiwa

Jurusan Komunikasi & Penyiaran Islam FAI-UMY
Wakil Ketuaa Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah


Bal’am Ibnu Ba’ura. Nama itu tertera dalam kisah peradaban masa lalu. Tepatnya pada masa Nabi Musa ‘alaihissalam. Dengan segala kapasitas intelektual, moral dan penghormatan yang tinggi dari umat masa itu, ia tampil menjadi sosok yang sangat tersohor. Karena itu pula Nabi Musa mempercayainya untuk mengemban amanah dakwah kepada penguasa Madyan.
Kepiawaian penguasa Madyan, tampaknya, tidak dapat disepelekan begitu saja. Segala fasilitas kehidupan serba-mewah, diberikan kepada Bal’am Ibnu Ba’ura, yang seiring dengan perjalanan waktu membuatnya sungkan menyampaikan kebenaran (kalimat al-Haq) kepada pemimpin Madyan tersebut. Ekstremnya kemudian, Bal’am tidak saja malu, bahkan ia mendeklarasikan kepada publik : ia secara resmi meninggalkan ajaran Nabi Musa, sekaligus bergabung dengan rezim tiran Madyan untuk bersatu-padu melawan dakwah dan perjuangan Nabi Musa ‘alaihissalam.
Pergeseran yang teramat sistemik , sistematis,   dan  berlangsung  dengan sangat halus pada diri seorang Bal’am. Dalam terma Al-Qur’an (Al-A’raf/7:175) disebut, Al-Insilakh. Inilah sebuah tragedi teologis dan sosiologis yang sangat merisaukan. Bahkan, tragedi ini nyaris tidak dirasakan apalagi disadari oleh individu, kelompok sosial maupun oleh sebuah bangsa yang besar. Sebuah peradaban yang mengalami pergeseran dan inhithath (degenerasi) ke titik nadir kehancurannya (tadahwur), tapi justeru generasinya merasa sedang berada dalam kemajuan dan kedigdayaan. Inilah tragedi dan malapetaka peradaban (al-insilakh al-hadlari)! Peradaban yang minus stamina dan orientasi spiritual, sekaligus kehilangan identitas dan jati diri (shibghah).
Rasulullah ‘alaihissalam pernah bertutur, “”Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat manusia pada setiap kurun seratus tahun orang yang memperbarui ajaran agamanya” (Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Hurairah). Sabda ini memberikan signal yang sangat tegas bahwa usia sebuah peradaban tidak dapat bertahan secara baik dan otentik dalam kurun waktu melampaui seratus tahun. Suatu peradaban itu akan memasuki masa aus-nya di angka satu abad, jika para pewarisnya tidak menyiapkan generasi peradaban untuk masa berikutnya. Oleh karena itulah diperlukan sebuah mekanisme alamiah untuk memperbaharuinya. Pembaharuan itulah yang kita kenal sebaga “tajdid”.
Sejatinya, tajdid tidak bermakna dekonstruksi. Bukan juga diartikan sebagai “amputasi” peradaban itu sendiri. Tajdid memberikan makna dan spirit “re-fine, memperindah kembali. Sejak awal kehadirannya di samudera peradaban Islam nusantara, Muhammadiyah kita telah memformulasikan konsep tajdid & re-fine tersebut dalam narasi besar : al-ruju’ ila al-Qur’an wa al-Sunnah!. Dalam muktamar satu abad-nya di kampus kita ini, dirumuskan kembali dalam sebuah tema “Gerak Melintasi Zaman: Dakwah dan Tajdid Menuju Peradaban Utama”.
Peradaban utama terbaca di atas tidak lain dari peradaban masyarakat yang sebenar-benarnya, yang terus menerus digemakan di Persyarikatan kita ini. Inilah peradaban khairu ummah yang didedikasikan untuk kemanusiaan sejagad dengan dua artikulasi pokok; amar ma’ruf dan nahi munkar. Pesona masyarakat Islam yang sesungguhnya itulah yang menjadi anak kandung gerakan dakwah dan tajdid (re-fine) Muhammadiyah yang menyinari umat manusia secara universal, sebagai mata rantai misi dan risalah gerakan Islam, rahmatan lil-‘alamin.
Ma’rifatu Al-Zaman : Ikhtiar Mendiagnosa Peradaban
Narasi besar di atas tidaklah selalu berjalan linear dan vertical, tanpa aral melintang. Sejak masa kenabian, junjungan kita, Nabi Agung Muhammad ‘alaihissalam telah mengisyaratkan karakteristik zaman yang akan dilalui oleh umatnya. Kepada sahabatnya, Hudzaifah Ibnul Yaman berpesan, betapa dahsyatnya dialektika zaman yang akan dilalui umatnya. Tidak ada zaman yang kita lalu kecuali lebih buruk dari zaman sebelumnya. Lebih lanjut, Rasulullah menjelaskan karakter akhir zaman : munculnya para pemimpin yang dalam menunaikan amanah kepemimpinan tersebut bersikap masa bodoh dengan sumber ajaran Islam (Al-Qur’an & Sunnah). Kedua sumber ini menjadi disfungsional dan tidak otoritatif sama sekali, meskipun diapresiasi sedemikian rupa dalam tataran kultur dan budaya lokal. Generasinya cenderung apatis, anti-Tuhan, berkarakter satanis (syaithan) yang bersemayam di tubuh manusia!.
Membincangkan tanda zaman semacam ini  tidaklah dalam perspektif fesimisme, apalagi fatalisme, pasrah tanpa ikhtiar membangun zaman dan peradabannya. Sinyalemen profetik di atas justeru me-refresh dan mengaktivasi kembali titik terdalam area spiritual, akal dan jasmani kita. Tak ubahnya seorang yang hendak menyeberang jalan yang padat lalu lintasnya, kita akan bersikap mawas diri dan tidak semberono. Inilah ma’rifatuz zaman, melek zaman yang diajarkan oleh qudwah kita, Muhammad ‘alaihissalam.
Dalam perspektif Muhammadiyah wacana ma’rifatuz zaman yang penulis kemukakan, sejatinya jauh hari telah digemakan, terkhusus dalam Muktamar ke-45 di Malang periode lalu, 2005. Lihatlah dengan kebeningan mata hati apa yang telah dirumuskan oleh para sesepuh, orang tua dan pimpinan kita dalam untaian “Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Jelang Satu Abad” (Zhawahir al-Afkar al-Muhammadiyyah Abra Qarn min al-Zaman).
Selain menegaskan konsistensi dan akhlaq istiqamah dalam mengarungi dinamika zaman, sejak masa berjihad melawan kolonialisme klasik hingga masa reformasi saat ini, Muhammadiyah menyatakan pandangannya tentang kehidupan umat manusia masa ini yang sarat paradox. Kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi melahirkan pencemaran lingkungan hidup dan eksploitasi alam yang tak terkendali, berkembangnya nalar-instrumental yang memperlemah naluri-naluri alami manusia, melahirkan sekularisasi kehidupan; pandangan anti-Tuhan dan serba dikotomik. Kehidupan modern  melahirkan antitesis post-modern dengan laku hidup serba-bebas (supra-liberal), serba-boleh (anarkhis), dan serba-menapikan nilai (nihilisme), sehingga memberi peluang semakin terbuka bagi kemungkinan anti-agama (agnotisme) dan anti-Tuhan (atheisme) secara sistematis. Demokrasi, kesadaran akan hak asasi manusia, dan emansipasi perempuan membawa implikasi pada kebebasan yang melampau batas dan egoisme yang serba liberal, destruktif terhadap relasi-harmoni antar manusia.
Secara sistemik dan sistematis, masyarakat terjebak pada egoisme (ta’bid al-nafs), penghambaan terhadap materi (ta’bid al-mawãd), penghambaan terhadap nafsu seksual (ta’bid al-syahawãt), dan penghambaan terhadap kekuasaan (ta’bid al-siyasah) yang menggeser nilai-nilai fitri (otentik) manusia dalam bertauhid (keimanan terhadap Allah SWT) dan hidup dalam kebaikan di dunia dan akhirat. Globalisasi justeru melahirkan sikap ekstrimisme baru, fanatisme agama tak terkendali, primordialisme etnik, dan kedaerahan semakin mengokohkan sekat kehidupan antar sesama. Neoliberalisme dan kapitalisme global hanya berpihak kepada kaum borjuis dan semakin menistakan hak-hak kaum dlu’afa’ dan mustadl’afin.
Hampir seratus tahun yang lalu, KH Ahmad Dahlan rahimahullah, di saat fajar peradaban Muhammadiyah mulai menyingsing di ufuk timur, juga mengajarkan ma’rifatuz zaman yang tidak berbeda dengan yang tertera di atas kepada murid-muridnya. Beliau berkeyakinan bahwa malapetaka terbesar yang mengancam manusia ialah sikap mempertuhankan hawa nafsu, yang dinyatakannya sebagai musyrik dan paganis! Menghambakan diri kepada hawa nafsu tampil dengan multi-wajah; taqlid buta kepada orang tua dan nenek moyang, patuh mengikuti perilaku kebiasaan yang menyimpang dalam lingkungan dan masyarakat; mendudukkan cinta makhluk di atas cinta kasih kepad Allah ta’ala.
KH Ahmad Dahlan rahimahullah mengajarkan murid-muridnya bahwa berhala hawa nafsu merupakan pokok berhala yang menyesatkan. Pengaruhnya sedemikian kuat dan merajalela. Hawa nafsu mematikan kemampuan dan potensi manusia untuk membedakan antara al-Haqq dan al-Bathil. Bahkan manusia bertabiat sebagai hewan karena terjajah oleh hawa nafsu tersebut. Manusia berbuat semaunya, mengabaikan tatanan etis dan moral. Inilah yang kemudian melahirkan kekacauan, kerusakan dan kerugian kepada dirinya sendiri, masyarakat dan negaranya.
Subhanallah! Tak satupun di antara kita hari ini yang bertatap muka dengan beliau, berinteraksi dan bercengkerama, kecuali apa yang kita warisi dari kisah-kisah indah dan bersahaja dari sisa-sisa generasi peradaban sebelumnya seperti Allahu yarhamuh KH Suprapto Ibnu Juraimai, umpamanya. Tapi yakinlah bahwa, pada tataran ruhiyah, sebagai esensi tertinggi dan energi kuantum dari bangunan materi kemanusiaan kita yang lemah ini, ada satu kepastian : adanya pertautan dan ketersambungan. Inilah pertautan ruh-ruh yang saling mengokohkan, sebagaimana terbaca dalam pesan kenabian “al-arwahu junudun mujannadah”.
Kesucian Jiwa Sebagai Pass Word Melintasi Zaman
Jika dinamika zaman dan peradaban seperti di atas seringkali memaksa, atau bahkan menteror manusia agar  meninggalkan poros utama fitrah dan kesuciannya, mungkinkah manusia menemukan kembali fitrah dan kembali ke orbit semula? Inilah kegelisahan spiritual KH Ahmad Dahlan rahimahullah. Beliau mengajarkan kepada kita untuk berkata “bisa”! Karena memang itulah wajah otentik kita, kesucian kita.
Dalam pandangan pendiri Muhammadiyah ini, orang yang berbahagia dan beruntung melintasi zaman ialah orang-orang yang senantiasa melakukan pensucian diri dan  jiwanya. Inilah laku tazkyatun nufus yang terinspirasi melalui Kalam Ilahi, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal” (Al-A’la : 14-17).
Tazkyatun nufus dalam perspektif Muhammadiyah bukanlah jebakan romantisme spiritual yang seringkali bersifat fatalis (jabariyah) dan menafikan relasi dengan alam serta dunia nyata. Tazkyatun nufus yang kita yakini dan lakoni ialah proses pensucian jiwa yang aktif dan produktif sekaligus berkontribusi positif dalam menata ulang dan membangun kembali rumah peradaban kita. Itulah sebabnya beliau menggugah murid-muridnya, “Apakah “kesucian diri” sebatas klaim semata? Bukankah orang-orang Hindu, Budha dan Nasrani juga mengakui hal serupa? “Apakah kamu seperti mereka?”. Baginya, tazkyatun nufus mesti diaktualisasikan dalam kesalehan sosial. Tidak boleh berhenti pada level individu semata.
Tazkyatun nufus ialah titik pertautan tiga amalan sekaligus; Dzikrullah, shalat dan ingat kematian. Pensucian jiwa meniscayakan kokohnya relasi kita dengan Allah. Asma’ & ShifatNya aktual dalam laku kehidupan kita. Totalitas kehidupan kita berada pada bingkai orientasi kepada Allah semata. Inilah esensi penegakan shalat yang melahirkan pribadi dan generasi peradaban yang visioner; menembus batas kehidupan alam materi: ingat kematian!.
Kesucian diri dan jiwa teridentifikasi melalui kata kalbu kita yang lillahi ta’ala, tidak munafik dan ambivalen. Akal dan karunia intelektual yang tersucikan tak akan destruktif dan mengkhianati peradaban yang berketuhanan (theistic-worldview). Pada tataran praksis, kita tidak terjebak pada kubangan sekularisasi yang menafikan relasi alam semesta dengan Penciptanya, meniadakan dimensi spiritual hidupnya serta berpandangan serba dikotomik, anti pandangan tauhidik. Inilah makna tazkyatun nufus: mensucikan dan purifikasi terhadap totalitas organ kemanusiaan kita sebagai syarat dan pass word melintasi zaman. Semoga kita istiqamah ber-Muhammadiyah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar