Laman

Senin, 15 November 2010

Khutbah 'Iedul Adha :TAQARRUB ILALLAH DAN MENGAMBIL HIKMAH DARI BENCANA


IDUL QURBAN:

Oleh Drs. H.Syamsul Hidayat, MAg
(Wakil Ketua Majelis Tabligh PP Muhammadiyah)

الحمد لله الملك الوهاب الرحيم التواب ، خلق الناس كلهم من تراب ، وهيأهم لما يكلفون به بما أعطاهم من الألباب ، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له بلا شك ولا ارتياب ، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله الذي أنزل عليه الكتاب ، تبصرة وذكرى لأولي الألباب صلى الله عليه وعلى آله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم المآب وسلم تسليمًا .
أما بعد: أيها الناس اتقوا ربكم وتوبوا إليه فإن الله يحب التوابين واستغفروه من ذنوبكم فإنه خير الغافرين ، توبوا إلى ربكم مخلصين له بالإقلاع عن المعاصي والندم على فعلها والعزم على أن لا تعودوا إليها فهذه هي التوبة النصوح التي أمرتم بها: {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ}

Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd,
Sidang Jamaah Idul Adha, rimakumullah,

Pertama, kita panjatkan puji dan syukur kita kepada Allah, Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya, Dzat yang Maha Pemaaf dan Penerima Taubat, yang telah melimpahkan nikmat yang paling agung kepada kita, yakni nikmat Iman dan Islam, serta nikmat berupa kesempatan dan peluang bagi kita untuk senantiasa bertaubat, menyesali dan memperbaiki amal perbuatan kita. Hembusan nafas yang masih menghiasi hidup kita adalah bukti nyata kalau Allah masih memberi kesempatan kepada kita untuk meneliti, merenung, menyesali perbuatan maksiat kita yang selanjutnya kita upayakan untuk melakukan perbaikan-perbaikan dan penguatan iman dan taqwa kita kepada-Nya.
Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada uswah hasanah kita, Rasulullah Saw, beserta keluarga, sahabat dan seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir jaman.


Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd,
Ma’syiral Muslimin, as’adakumullah,

Hari ini, 10 Dzuhijjah 1431 Hijriyah, kita merayakan Idul Adha, dalam situasi keprihatinan atas bencana Merapi yang melanda daerah kita dan sekitarnya. Banyak saudara, keluarga dan handai-taulan kita yang menjadi kurban, baik yang meninggal kembali ke rahmatullah, yang mengalami luka-luka berat dan ringan, kehilangan tempat tinggal maupun kehilangan mata pencaharian dan sebagainya.
Kepada mereka yang telah dipanggil Allah dari kalangan kaum Muslimin kita berharap dan berdoa, semoga mereka termasuk hamba-hamba Allah yang mendapatkan husnul khatimah. Sedangkan korban yang lainnya semoga dilimpahi ketabahan, kesabaran dan kemampuan untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari bencana dan musibah yang dialami.
Demikian juga kita yang diberi kesempatan untuk merayakan Idul Adha ini, marilah kita semuanya pandai-pandai menggali hikmah dan pelajaran (ibrah) dari bencana Allah turunkan kepada kita.

Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil Hamd
Sidang Idul Adha, rahimakumullah.

Bencana demi bencana yang Allah timpakan kepada hamba-Nya pasti punya maksud dan tujuan, pasti ada hikmah yang dapat diambil disebaliknya, khususnya bagi hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, dan pandai-pandai menggunakan akal dan hati nurarinya. Hal ini ditegaskan oleh firman Alllah yang berbunyi:
                
(38).dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main. (39). Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. (Al-Dukhan (44) : 38-39)
Allah menciptakan langit, bumi dan seisinya tidak dengan main-main, melainkan memiliki maksud dan tujuan. Dan Allah tidak menciptakan semuanya itu, kecuali dengan al-haqq, akan tetapi kebanyakan manusiat tidak mengetahui, yakni tidak mau menggunakan akal dan hatinuraninya untuk memahami dan mengambil hikmah dan pelajaran atas segala ciptaan Allah.
Kalau kita telusuri ayat-ayat Al-Quran dan Sabda Rasulullah dalam sunnahnya, bencana dan musibah diterimakan kepada umat manusia setidaknya ada 3 jenis musibah. Yaitu musibah sebagai peringatan, musibah sebagai ujian dan musibah sebagai hukuman atau azab Allah.
Yang pertama, musibah sebagai peringatan diberikan kepada mereka yang beriman dan bertaqwa, tetapi melakukan banyak dosa dan maksiat. Musibah diturunkan sebagai peringatan agar mereka kembali memperkokoh iman dan taqwannya, bertobat dengan pertobatan yang murni (taubat nasuha). Musibah dam bencana yang ditimpakan juga mengingatkan bahwa semua itu terjadi karena ulah manusia, maka sudah semestinya orang-orang yang beriman mengambil pelajaran dengan menghentikan maksiat dan meningkatkan ketaatan kepada Allah.
Allah berfirman:
                  
11. tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan Barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (Al-Taghabun: 11)
Dalam ayat ini ditegaskan, apabila musibah melanda, dan manusia tanggap bahwa semua itu peringatan dari Allah agar mereka memperkokoh keimanan, maka Allah akan memberinya petunjuk kepada hatinuraninya untuk dapat memperbaiki diri dan lingkungannya.
Memandang musibah atau bencana sebagai peringan digambarkan oleh Nabi sebagai berikut:

الَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:لَيْسَ بِمُؤْمِنٍ مُسْتَكْمِلِ الإِيمَانِ مَنْ لَمْ يَعُدَّ الْبَلاءَ نِعْمَةً، وَالرَّخاءَ مُصِيبَةً، قَالُوا: كَيْفَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: أَنَّ الْبَلاءَ لا يَتْبَعُهُ إِلا الرَّخَاءُ، وَكَذَلِكَ الرَّخَاءُ لا تَتْبَعُهُ إِلا الْمُصِيبَةُ (رواه الطبرانى)
Rasulullah saw. bersabda: “Tiada dianggap mukmin yang sempurna imannya orang yang tidak menganggap suatu bala’ sebagai sebuah kenikmatan, dan suatu kemudahan sebagai musibah. Para sahabat bertanya: Bagaimana itu ya Rasulullah? Rasul menjawab; “Karena tiak menyertai balak itu kecuali adanya kemudahan. Demikian juga dengan kemudian itu akan disertai dengan musibah.” ( HR al-Tabrani no 10787).


Ma’syiral Muslimin, as’adakumullah,
Kedua, musibah sebagai ujian ini juga ditujukan kepada orang-orang yang beriman. Apakah dengan musibah yang dialami akan menggoyahkan imannya atau justru semakin kokoh iman dan taqwanya. Hampir sama dengan musibah sebagai peringatan sebenarnya musibah atau bencana itu ditimpakan kepada kita, adalah merupakan rahmah dan nikmat dari Allah kepada kita.
Orang yang beriman memiliki jiwa yang tangguh dan menakjubkan seperti digambarkan oleh Rasulullah dalam sabdanya;
عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ (رواه مسلم)
dari Shuhaib berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (HR. Muslim no 5316)
Orang-orang yang beriman menanggapi musibah secara positif tinking kepada Allah dengan selalu melakukan istirja’ kepada Allah.
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَصَابَتْ أَحَدَكُمْ مُصِيبَةٌ فَلْيَقُلْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ عِنْدَكَ أَحْتَسِبُ مُصِيبَتِي فَآجِرْنِي فِيهَا وَأَبْدِلْ لِي بِهَا خَيْرًا مِنْهَا (رواه أحمد أبو داود والترمذي)
Dari Ummu Salamah, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila salah seorang diantara kalian tertimpa musibah maka hendaknya ia mengucapkan; INNAA LILLAAHI WA INNAA ILAIHI RAAJI'UUN ALLAAHUMMA 'INDAKA AHTASIBU MUSHIIBATII FA-AAJIRNII FIIHAA WA ABDIL LII BIHAA KHAIRAN MINHAA (sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepadaNya kami akan kembali. Ya Allah aku mengharapkan pahala pada musibahku dan berilah aku pahala padanya dan gantikanlah untukku yang lebih baik darinya!)
Bagi orang yang beriman, dengan sikap sabarnya itu justru setiap musibah yang datang akan menjadi jalan bagi terhapusnya dosa-dosanya karena taubat dan peningkatan taatnya kepada Allah dan usahanya untuk sejauh mungkin meninggalkan kemaksiatan. Di samping itu, juga dapat meningkatan derajatnya di hadapan Allah dan manusia.
قَالَتْ عَائِشَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُؤْمِنٍ تَشُوكُهُ شَوْكَةٌ فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَرَفَعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةً (رواه أحمد)
Aisyah berkata; "Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang beriman yang terkena duri yang menancapnya. Sungguh, tidak ada setelahnya kecuali Allah akan menghapuskan kesalahannya dan dengannya ia akan mengangkat derajat."

Allahu Akbar wa lillahil hamd,
Adapun yang ketiga, musibah atau bencana sebagai hukuman, balasan atau azab. Ini diberikan kepada mereka tidak mau beriman, tidak mau mengambil hikmah dan pelajaran, yang kemudian diikuti oleh sikap kufur dan ingkar kepada Allah. Tertimpa bencana bukannya melakukan introspeksi, tetapi justru terus berbuat kerusakan, baik kerusakan aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalahnya. Maka orang demikian ini, tidak ada yang pantas baginya kecuali hukuman dan siksaan sebagai balasan atas perbuatannya.
Allah berfirman:
 •    •                                                                                            
96. Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
97. Maka Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
98. atau Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?
99. Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.
100. dan Apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya, bahwa kalau Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?
101. negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian dari berita-beritanya kepadamu. dan sungguh telah datang kepada mereka Rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, Maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya. Demikianlah Allah mengunci mata hati orang-orang kafir.

Allahu Akbar wa lilahil hamd.
Wahai saudara-saudaraku Mukminin dan muslimin,
Kita berdoa dan berharap, bahwa bencana dan musibah ini bukan sebagai azab atau hukuman bagi kita. Semoga masih sudi menerima kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mukmin,muslim, muhsin dan muttaqin.
Kita jelas-jelas masih diberi kesempatan hidup, memiliki akal dan hati untuk berpikir, merenung dan introspeksi. Mungkin memang telah banyak dosa dan maksiat yang telah kita lakukan, baik kepada diri sendiri, keluarga, rekan-rekan dan handai taulan, serta dalam menjalan tugas dan peran kita di masyarakat, kita.
Momentum Idul Adha atau Idul Qurban ini, harus kita gunakan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan mencermati dosa-dosa dan maksiat kita ketika sebaga suami, istri dan anak-anak dalam kehidupan keluarga. Kita cermati pula kemaksiatan dan dosa kita yang menjadi pedagang, pegawai, petani dan berbagai profesi lainnya. Mungkin kita telah melupakan tugas amar makruf nahi munkar atau justru kita telah asik dan tanpa sadar melakukan kemungkaran di mana-mana.
Introspeksi yang dilakukan di atas landasan iman dan taqwa kepada Allah, insyaallah akan menaikkan derajat keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, yang selanjutnya akan mengundang barakah Allah yang akan dibukakan dari langit dan bumi.
Demikianlah khotbah yang dapat saya sampaikan, semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah, taufiq dan ma’unah kepada kita semuanya. Amien

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، اللهم وفقنا للمبادرة بالتوبة من الذنوب والرجوع إلى ما يرضيك عنا في السر والعلانية فإنك علام الغيوب، اللهم طهر قلوبنا من الشقاق والنفاق والسمعة والرياء، اللهم باعد عنّا وعن المسلمين الغش وشهادة الزور وارزقنا الصدق في المعاملات وجنبنا الحرام وفعل الآثام ما ظهر منها وما بطن، اللَّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ المُوَحِّدِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الـْمُسْلِميْنَ في كُلِّ مَكَانٍ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْـمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّهُ سَمِيْعٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ربِّ الْعَالَمِيْنَ

Khutbah Idul Adha 1431 H :
Perguruan Muhammadiyah Borobudur 16 Nopember 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar